Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

James Bond : Ian Fleming Part 2


Berarti, saat lan Fleming menghasilkan novel pertamanya, dia lama sekali tidak memikirkan sukses. Apalagi uang. Dia hanya enulis untuk menyenangkan dirinya sendiri. Untuk 'membunuh waktu', daripada hanya menunggui kekasihnya melukis!

Toh begitu, ketika terbang ke London, naskah itu dibawanya juga. Tapi tidak untuk diperlihatkan kepada siapa-siapa. "Aku terlalu malu dengan naskah itu!" kata Fleming. Malu kalau dibaca teman dan teman itu mengatakannya jelek!

"Tak mungkin ada penerbit yang mau menerbitkannya!" kata lan lagi. "Kalau toh akhirnya diterbitkan juga, aku tidak berani menatapnya"

Maksudnya: kalau toh naskah itu diterbitkan juga, lan Flerajt tidak berani menghadapi reaksi masyarakat—yang mungkin sekali akan melecehkannya.

Karena tidak PD itulah, ketika lan Fleming makan siang bersama William Plomer di Restoran Ivy, dia berandai-andai. "Bagaimana caranya lepas dari asap rokok seorang perempuan, sekali kau di dalamnya?" tanya lan. Plomer agak keheranan juga. Lalu metetal meneruskan pembicaraan mengenai 'asap rokok itu, ketik tiba William Plomer sadar: "Kamu telah menulis sebuah buku ya?! lan Fleming hanya bisa mengangguk setelah 'ditebak tepat' oleh temannya itu. "Aku harus membacanya!" pinta William lagi.

Fleming hanya mengangguk. Dan, begitulah mula pertan Casino Royale mulai dibaca orang lain. William Plomer, tern baiknya. Meski, sebenarnya, tidak segampang itu. Sebab karena tidak PD-nya lan Fleming, baru setelah dua bulan, naskah itu benar-benar diberikan untuk dibaca!

"Aku belum juga mengirimkan naskah ini, karena malu. menulis buku ini hanya untuk menunjukkan pada diriku bahwa aku bisa menulis. Aku tidak membacanya lagi setelah kutulis
Pendeknya, lan Fleming 'memaki-maki sendiri' pertamanya itu. Meski begitu, naskah akhirnya dikirimkan kepada William Plomer untuk dibaca...

TERJUAL LIMA RIBU EKSEMPLAR, MERASA TERHINA!

PLOMER kemudian mengirimkannya kepada sahabat mereka berdua, Jonathan Cape yang penerbit.

Di luar pengetahuan Fleming, Plomer juga mengirim naskah itu ke sahabat lain, Daniel George. Daniel pun membaca Casino lojale dengan penuh perhatian. Dia tertarik, tapi "untuk diterbitkan, harus direvisi dulu!"

Cape setuju. lan Fleming pun, setelah membaca surat Daniel, juga setuju draft Casino Royale "harus direvisi besar-besaran".

Fleming yang semula pesimistis, kini gairahnya bangkit lagi. Mesin ketiknya yang lama, Imperial, tak dipakai lagi. Fleming pesan khusus mesin ketik baru di New York, dan memperoleh mesin ketik Royalyang 'keemasan'. Harganya 174 dolar.

Cukup banyak bagian yang harus ditulis ulang. Fleming juga harus mengecek kembali nama-nama senjata yang dipakai dalam : Casino Royale itu. yang ternyata banyak yang salah. Tapi akhirnya revisi besar selesai pada akhir Agustus, sehingga dapat dikirim kembali ke Plomer.

Cape merencanakan penerbitan thriller itu pada April 1953. Sementara itu, naskah Casino Royale juga dikirimkan kepada sahabat lainnya, Paul Gallico (pengarang sejumlah novel laris, antara lain inferno yang masyhur). Penulis ini merasa telah menulis banyak mengenai penyiksaan atas manusia, "tapi setelah membaca karyamu, semua yang aku tulis telah kau patahkan!"

'Akuyakin kau dapat menulis novel yang baik!" kata Gallico pula. Pengarang masyhur lainnya yang dikirimi Casino Royale, adalah Somerset Maugham. Dia pun memuji, meski tidak setinggi pujian Paul Gallico. Tapi karena Maugham memang lebih tinggi 'kadar kesastraannya, dibanding Gallico, maka lan Fleming meminta izin, komentar Maugham itu dapat dimuat di cover Casio Royale. Ternyata, secara dingin Maugham menolak atau tidak memberi izin!

Dalam perundingan, Jonathan Cape akan mencetak Casino Royale 7.000 eksemplar. Fleming meminta 10.000, tapi Cape menolak. Perjanjian lain: Fleming dapat rqyalti 10 persen setiap penjualan 10.000 eksemplar. Kalau dicetak ulang dan mencapai 20.000, royaltinya naik pula menjadi 20 persen!

SAMBIL menunggu penerbitan buku pertamanya, lan Fleming sudah ngebut buku kedua: Live and Let Die. Tentu: ditulis di Jamaica, di tempat tinggalnya yang diberi nama Goldeneye (nama ini diambil dari 'kode sandi' Winston Churchill pada PerangDuni II, saat Inggris beroperasi di Spanyol menghadapi Jenderal Franc yang diktator. Goldeneye juga diambil dari buku karya McCullier yang dikagumi, judulnya Reflection in a Golden Eye).

lan Fleming cepat-cepat menulis thriller kedua, karena tid ingin 'resensi buruk mengenai Casino Royale' akan mempengau dirinya. Kalau toh nanti reaksi masyarakat atau kritikus buruk Fleming sudah merampungkan buku kedua!

Ternyata, setelah terbit, resensi tentang Casino Royale tidak buruk. Tidak terlalu memuji, tapi juga tidak 'membunuh'. Reaksi mereka bervariasi, dan itu wajar.

Dicetak April, ternyata hingga Mei hanya laku 4.750 eksemplar. Ini mengecewakan Fleming. Bahkan dia menganggapnya sebagai I 'penghinaan'. Tapi dia harus realis: itu kenyataan.

Ketika 'dijual' untuk edisi Amerika, tanggapan penerbit berbeda. Tiga penerbit pertama yang dihubungi, menolak menerbitkan Casino Royale di Amerika. Termasuk Doubleday. Tapi penerbit keempat, Macmillan, akhirnya setuju menerbitkan edisi Amerikanya. Bahkan, lan Fleming akan diberi royalti "seperti diberikan kepada (pengarang masyhur) Ernest Hemingway". Apa benar begitu, waktu yang akan membuktikan.


JADI BESTSELLER MENJELANG KEMATIANNYA

ANTARA lain karena penjualan Casino Royale tidak begitu meledak terjua! 5.000 eksemplar, meski kelak akan terjual sampai 30.000 eksemplar) lan Fleming kemudian bekerja untuk Koran lagi.

Bekerja di media massa jelas bukan hal baru. Di masa mudanya dulu, setelah dia menguasai Bahasa Rusia dan lainnya, lan bekerja agai wartawan dan ditempatkan di Moskow. Bertahan sekitar ipat tahun, Fleming kemudian kembali ke London dan jadi pialang hingga 1939.

Di masa perang, Fleming bekerja di lingkungan Intelijen igkatan Laut Inggris, di bawah Admiral John Geofrey (yang agaknya menjadi 'Mr M' dalam buku-buku James Bond-nya). Sampai pangkatnya jadi Commander.

Setelah pensiun, Fleming bisa dibilang 'menganggur' meski melakukan riset untuk buku dan sesekali menulis kolom di surat kabar. Lalu sampailah di Goldeneye, saat dia bersama calon istrinya, Anne, disuruh 'coret-coret atau menulis' untuk membunuh waktu karena tak ada yang dikerjakan di Jamaica.

Dari situlah lahir thriller pertamanya, Casino Royale, umurnya 44 tahun. Sebelum buku itu dilempar ke pasar, Fleming sudah menulis buku kedua: Live and Let Die. Begitulah memang 'gaya kerja' lan Fleming. Dia sudah terlanjur senang dengan tokoh utamanya, James Bond.

Dan kadung kesengsem dengan dunia spionase diciptakannya. Maka, sebelum setiap buku baru dirilis, Fleming pergi ke Gordeneye di (amaica, untuk menulis novel berikutnya. Begitu terus menerus hampir setiap tahun.

Pada mulanya, lan Fleming mengarang hanya untuk kesenangan diri sendiri. Lalu terbersit keinginan memperoleh sukses besar dalam hal poundsterling atau dolar. Akhirnya dua keinginan itu digabung: ya menulis untuk kesenangan, ya berharap bisa memanen dolar atau poundsterling!

Memang tidak semeledak buku-buku karangan John Grisham misalnya. Buku pertama Fleming semula hanya laku eksemplar. Padahal dicetak 7.000 eksemplar. Setelah edisi; terbit, laku 7.000 eksemplar. Itu pun memerlukan waktu cukup lama. Buku kedua. Live And Let Die, juga mengalami nasib yang sama.

Tapi lan Fleming sudah tidak begitu peduli lagi: kini, nomor satu adalah menghasilkan serial James Bondyang baru. Seteiah itu, baru berharap bisa laku keras.

Ternyata, apa yang diharapkan baru terjadi sekitar 8 tahun kemudian: pada 1961, Presiden Amerika John F Kennedy, mengumumkan ' 10 buku favoritnya'. Pernyataan itu diumumkan setelah diwawancarai wartawan majalah Life. Salah satu dari buku itu berjudul From Russia With Love karangan lan Fleming!

Sejak itu pula, buku-buku serial James Bond menjadi bestseller. Baikyang sudah dicetak sebelumnya, maupunyang baru. Antara lain: Thunderball, Moonraker, The Diamond Smugglers, For Your i Eyes Only, The Man With the Golden Gun. On Her Majesty's I Secret Service, Diamond are Forever, The Spy Who Loved Me. Kalau semula ham/a dicetak 5.000 hingga 10.000 eksemplar, [dengan masuk dalam 'daftar bestseller', buku-buku Fleming fmenjadi boom, khususnya untuk Amerika. Dari seluruh karyanya, s 12 buku, penerbit mencetak antara 40 hingga 50 juta eks.

lan Fleming benar-benar menjadi kaya raya seperti yang diangankan. Apalagi, dua produser film dari Kanada dan Amerika, Harry ISaltzman dan Albert Broccoli, bersepakat membuat film-film James |Bond. Mereka membeli hak filmnya yang menghasilkan tumpukan dolar bagi lan Fleming. Sebagai pengarang minimal memperoleh isil tambahan 5 persen dari setiap filmyang dibuat! Untuk keperluan itu, koran The Daily Espress membuat sayembara mencari tokoh pemeran James Bond'. Tidak kurang 1.100 orang melamar, termasuk seorang lelaki yang mengaku

bernama James Bond. Tapi tak ada satu pun yang dianggap 'COCOK . Ini mengingatkan orang pada pencarian pemeran Scarlett, leading lady untuk film Cone With The Wind yang legendaris itu.

Beberapa bintang tenar seperti David Niven dan Richart Burton, diusulkan. Tapi tidak memenuhi syarat. Akhirnya Saltzman sendiri yang menemukan: yaitu 'lelaki tanpa karir, bernama Scan Connery. Barulah lan Fleming merasa 'pas'. Sejak itu pula, James Bond identik dengan Scan Connery. lagi pada lan Fleming pengarangnya!

Scan Connery pun menjadi kaya raya berkat serial lames itu. Tapi, ternyata, From Russia With Love memang 'masterpiece’-nya lan Fleming: sebab tiga tahun setelah itu, pada 12 Agustus 1964, dia meninggal karena sakit.

Walhasil, film-film |ames Bondyangke 13 hinggayangterl seri ke-20 dan seterusnya, bukan karya lan Fleming. Prod film telah membeli 'hak membuat film |ames Bond'-nya. produser pula yang mencari penulis untuk 'kelanjutan' serial James Bond tersebut. Begitu fenomenal seri )ames Bond ini, sehinggj disebut sebagai "one of the most successful heroes of the 20th-century fiction".

James Bond : Ian Fleming Part 1


Dalam sejarah perfilman dunia, khususnya Hollywood, barangkali belum pernah ada ‘serial’ sampai 10 episode lebih. Rocky maupun Rambo (Stallone) paling banyak hanya sampai Part IV. Begitu pula Superman (Reeves) dan Indiana Jones (Harrison Ford).

Satu-satunya serial ‘abadi’ hanyalah James Bond. Tahun 2011, misalnya, dibuat sequel ke-20, yang kemudian diputar pada 2002. Meski ada sas-sus akan diperankan actor baru, tapi produser menegaskan : pemeran utamanya (James Bond) tetap Pierce Brosnan.

Sementara itu, MGM sebagai produser, juga telah meluncurkan ‘VCD Bond Collection’ yang berdurasi 742 menit. Merupakan koleksi enam film James Bond mutakhir. Tomorrow Never Dies, Golden Eye, License to Kill, The Living Daylight, A View to Kill, dan Octopussy. Diperankan Roger Moore, Timothy Dalton hingga Pierce Brosnan.

Sebelum itu James Bond nyaris identik dengan Sean Connery. Konon, film pertama pertama serial ini dibawakan David Niven. Tapi pengarangnya, Ian Fleming, tidak puas. Baru setelah dibawakan Connery, Fleming senang dan merasa ‘paling pas’. Itu pula sebabnya Connery terus dipakai, sampai dia merasa jenuh dan meninggalkannya, karena menginginkan peran yang lebih menantang.

Sean Connery mencapai tujuannya, setelah merebut Hadiah Oscar untuk perannya dalam The Untouchable.

Dulu, tahun 60-an hingga 70-an, James Bond memang selalu dibuat setiap tahun. Kemudian diputar setiap tahun baru. Ternyata selalu disambut hangat. Film-film James Bond selalu jadi Boxoffice! Itu sebabnya sampai mencapai episode ke-20.

Tentu, larisnya fim James Bond dimulai dari bukunya yang juga menjadi bestseller. Menurut sebuah sumber, terjual lebih dari 18.000.000 eksemplar (ada yang engatakan 40 juta eksemplar). Jelas membuat pengarangnya, Ian Fleming, menjadi kaya raya. Apalagi kemudian ditambah royalti dari film-filmnya, yang juga menjadi boxoffice.

Salah satu resep utama yang membuat serial James Bond laris, adalah diramunya unsure-unsur ini: wajah James Bond yang ganteng, macho, cerdas, punya senjata-senjata rahasia yang mematikan. Dikerubungi wanita-wanita cantik dan montok. Pertarungan menegangkan spion-spion Barat (Inggris Amerika) dan Timur (Rusia dulu Uni Soviet). Atau antara ‘dunia bebas’ dan komunisme.

Resep lainnya: selalu mencekam, terjadi kejar-kejaran yang melibatkan kendaraan-kendaraan ‘ekslusif’, perjudian dan tentu saja humor. Dan diakhiri dengan sex. Itulah resep utama film-film James Bond.

Memang ada perbedaan mencolok antara buku-bukunya (yang bestseller) dengan film-filmnya (yang boxoffice). Tapi intinya sama: memperkenalkan teknologi baru, baik untuk kendaraan maupun senjata.

Buku James Bond mencapai ‘puncaknya’, ketika Presiden Amerika, John F. Kennedy, mengumumkan 10 buku yang disukainya. Atas pertanyaan wartawan majalah Life, Kennedy menyebut: 1. Melbourne karangan David Cecil, 2. Montrose (John Buchan), 3. Marlborough (Winston S. Churchill), 4. John Quincy Adams (Samuel Flagg Bemis), The Emergency of Lincoln (Allan Nevins), 6. The Price of Union (Herbert Agar), 7. John C. Calhoun (Margaret L. Coit), 8. Byron in Italy (Peter Quennell), 9. From Russia with Love (Ian Fleming), dan 10. The Red and The Black (M de Stendhal).

Begitu terpesonanya Kennedy, sehingga dia meminta Direktur CIA, Allan Dules, untuk menjajaki kemungkinan membuat senjata ampuh, seperti yang digunakan James Bond dalam buku tersebut. Maklum: saat itu ‘perang dingin’ antara Barat dan Uni Soviet memang sedang mencapai puncaknya!

TERCIPTA KARENA AKAN MENIKAH DALAM USIA YANG CUKUP TUA

SETELAH pensiun sebagai Commander pada Dinas Intelijen Angkatan Laut Inggris, lan Fleming menjadi manajer urusan luar negeri grup harian milik Kemsley. Dia punya rencana: 10 bulan terja di London, Inggris. Dan dua bulan ada di Jamaica.

Tapi, sebenarnya, sudah lama lan Fleming ingin menulis novel. Atau tepatnya menulis 'spy story to end all spy stories' (cerita spionase yang akan mengakhiri semua cerita spionase). Tapi keinginan itu selalu tertunda-tunda.

lan Fleming malahan banyak menulis review buku atau artikel. Juga melakukan riset untuk sebuah bukuyang sama sek ada kaitannya dengan dunia spionase.

Ketika pada Januari 1952 lan Fleming ada di Goldeneye, tempat tinggalnya di Jamaica, rencana menulis thriller itu sudah berlalu sekitar enam tahun. Dan belum juga dimulai.

Di Goldeneye, Fleming tinggal bersama Anne-wanita akan jadi istrinya. dan tengah menunggu perceraian resminyac Lord Rothermere. lan Flemingyangdilahirkan pada 28 Mei 1908, merasa bosan karena tidak ada yang dikerjakan di tempat Anne sendiri menyibukkan diri dengan melukis.

Usia lan Fleming waktu itu mendekati 43 tahun. Atau kurang 10 minggu lagi.
"Kerjakanlah sesuatu. agar kamu tidak bosan. Menulis misalnya?" kata Anne memberi saran.

lan Fleming seperti marah kepada dirinya sendiri, karena hingga usia 43 tahun belum juga menikah. Padahal dia pernah studi di Inggris. jerman dan Switzerland, ganteng, banyak digemari, tukang rayu pula. Eh. ketika akan menikah, dengan wanita bersuami pula!

lan Fleming syok. Dan bosan hanya menunggui melukis. Karena itu. dia mempertimbangkan saran Anne' melakukan apa saja. misal menulis.

Ya, apa salahnya menulis? Sekadar untuk merinting-rintang waktu. Untuk menyenangkan diri sendiri!

lan Fleming pun masuk ke dalam. Lalu menarik mesin ketiknya yang telah berusia 20 tahun. mere Imperial. Merenung sebentar lalu mencari nama tokoh yang 'simpel. sederhana, mudah
diucapkan, dan diingat'. Fleming terpana pada buku berjudul Birds of the West Indies yang digemarinya, dan hampir selalu diletakkan di atas meja makan.

Penulis buku burung itu adalah James Bond. James Bond! Nama yang tepat!" pikir lan Fleming. lan Fleming pun mulai mengetik dan mengetik dan mengetik. Heran: tulisannya sangat lancar. Pengalamannya berpuluh tahun sebagai Commander di Dinas Intelijen Angkatan Laut Inggris. Cerila-cerita yang didengar atau bahkan dialaminya. Diramu ;animajinasinya_yang sudah lama hovering di kepalanya. Semua seperti meledak mendadak di pagi hari Selasa lanuari 1952 itu.

Seperti banjir yang menghantam tanggul, tulisan lan Fleming mengalir begitu deras. Padahal tanpa persiapan. Tanpa catatan satu cuwil pun! Sepagi itu Fleming dapat merampungkan sekitar 2.000 kata. Dan karena mulai keranjingan pada cerita yang tengah ditulis, Fleming menetapkan setiap pagi selama tiga jam, minimal dia harus merampungkan 2.000 kata!

Pengalamannya sebagai wartawan di Moskow selama empat tahun, sungguh menolong. Kini dia selalu mengetik antara pukul 09.00 hingga 12.00. Lalu istirahat. jalan-jalan. Mandi matahari. minum. Dan seterusnya.
Sekitar tujuh minggu, rampunglah novel itu. lan Fleming Imemberinya judul Casino Royale

AKU MALU SEKALI PADA NOVELKU INI!

“BAU asap rokok bercampur bau keringat dari suatu casino, selalu menjemukan. Membuat mual. Ditambah gumpalan campuran perasaan tegang dan panas, semua menjadi tak tertahankan dan membuat orang memberontak sekeras-kerasnya.

lames Bond tiba-tiba merasa capek sekali. Dia selalu menyadari bila tubuh atau syarafnya sudah tak tahan lagi dan dia bertindak menuruti perasaannya itu. Ini membantu dia
menjaga mengurangi perbuatan-perbuatan yang bisa keliru.

Dia menarik kursinya ke belakang dan meninggalkan meja roulette di mana ia ikut main dan sejenak dia berdiri diam, menyandar pada pagar besiyang melingkungi meja roulette itu.

Le Chiffre masih main, dan kelihatannya sedang menang. Di depannya tampak bertumpuk kepingan-kepingan seharga seralus ribu franc. Di dalam lingkungan tangan kirinya ada lagi kepingan-kepingan kuning yang lebih berharga, yaitu masing-masing setengah juta franc.

Bond sejenak memperhatikan profil orang kuat itu...
Itulah permulaan novel pertama karya lan Fleming.yangdiberi judul Casino Royale. Thriller yang digarap secara maraton sejak pagi Januari 1952 itu. rampung dalam waktu sekitar tujuh minggu Tepatnya 18 Maret 1952, atau enam hari sebelum perkawinannya dengan Anne dilangsungkan di Port Maria.

James Bond adalah pahlawan utamanya. Spion Inggris (atau Barat) yang akan selalu berhadapan dengan musuh utamanya, para spion Rusia (Timur, komunis) di mana pun dan kapan pun, di selurull penjuru dunia.

Jadi, Le Chiffre adalah 'bandit komunis pertama' yang akan dikalahkan James Bond. Tentu, setelah melalui ketegangan yang luar biasa, dari awal sampai akhir kisah. Tapi, tentu saja, yang dihasilkan lan Fleming pada Maret 1952 itu, baru draf-nya. Atau naskah kasarnya. Meski dia sudah 6 tahun ingin 'menulis cerita spy untuk mengakhiri semua cerita spy', tapi nyatanya dia tidak pernah menulis satu kalimat pun. Baru pagi jari itulah, secara tak sengaja, dia benar-benar menulis thriller yang diimpikannya.

Jadi, kalau Lu Hsun mulai menulis pada usia sekitar 37 tahun. i Fleming justru lebih tua 43 tahun! Wajar, kalau Fleming tidak PD pada karya pertamanya itu. irenanya Fleming tidak ingin kekasihnya, Anne, membaca dan nberinya komentar. Anne sendiri juga tidak ingin membaca ayang ditulis lan, sebab dia sibuk melukis. Dan lagi, Anne juga tak mengira kalau yang ditulis lan adalah 'novel serius', dalam arti novel sungguhan. Bukan sekadar 'pelarian' dari kesepian seperti karangannya.

The Godfather : Mario Capuzo Part2


DIKIRA TOKOH MAFIA SUNGGUHAN


BUKU The Dark Arena tidak menghasilkan uang. Mala| memberinya sakit, dan memaksa Mario Puzo mendarat di sakit.

Tapi dasar penjudi. Di rumah sakit, Puzo pasang taruhan pertandingan baseball dan menang. Maka kerjanya di bank (malam hari) ditinggalkan. "Aku ingin mencurahkan tenaga untuk mengarang," katanya.

Kehabisan uang pula. Kerja lagi dan keluar lagi, kali ini kerja di administrasi tentara cadangan. Tapi kerjanya di sebuah majalah (MagazineManagement) bertahan cukup lama. Sebab dinilai cukup menguntungkan. Dia menulis cerita-cerita Perang Dunia II, yang pernah juga dialaminya. Sebuah pengalaman yang sangat bermanfaat dan membantu kepengarangannya.

Di tempat itu pula, Puzo kadang dipaksa membaca sekaligus 6 buku.semua mengenai PD II. Hal ini membuat dia "ahli mengenai Perang Dunia II". "Aku tahu lebih banyak dari yang lain, karena aku membaca semua buku tersebut," kata Puzo mengenang pengalamannya.

Bruce jay Friedma, Pemimpin Redaksi dan juga novelis, ingat kebiasaan Puzo "bersandar pada kursi dan di mulutnya rokok besar mengepul, sementara di tangan kanan dan kirinya ada tiga .sebagai layaknya makanan saja".

Tepat. Buku bagi Mario Puzo. memang merupakan makanan. Inilah sebabnya ada kritikus yang mengatakan: Puzo is an avid ?serious reader. Puzo adalah tukang baca buku yang serius.

Hal itu dibuktikan pada kejadian berikut: pada saat Mario Puzo menyiapkan Godfather, dia sempat pula menulis berpuluh pembicaraan buku (resensi), di samping cerita-cerita cilik. Seperti totanya sendiri: "selama waktu itu (menyiapkan Godfather) aku to menulis tiga cerita petualangan—setiap bulan!—untuk Martin Goodman. Aku juga menulis buku kanak-kanak, yang ternyata mendapat kritik bagus dari the New Yorker. Aku juga banyak menulis resensi buku di banyak majalah. Inilah masa-masa paling kfliembahagiakan dalam hidupku!"

Membahagiakan? Keluarganya tidak setuju dengan pendapat ['III, karena uang_yang dihasilkan tidak begitu banyak!

PENDAPAT keluarganya tepat. Sebab sebelum Godfather, Mario Puzo hanya menghasilkan 6.500 dolar. Setelah Godfather, dalam sepuluh tahun terakhir, diperkirakan Puzo bisa mengeduk.... 6.000.000 dolar. Seribu kali lipat!

uang itu diperoleh dari Godfather I (I juta dolar). Untuk Godfather II, khususnya skenario, Puzo mendapat 100.000 dolar, plus 10% keuntungan yang diperoleh (jadi kalau film ini sukses, uang pun akan mengalir terus ke koceknya).

Godfather III siap pula, dan Puzo paling sedikit mendapat 250.000 dolar. Penghasilan lain adalah dari menulis skenario untuk Earthquake yang terkenal itu (menghasilkan 350.000 dolar), Superman /dan //, juga The Man of Steel.

Ini memang kemenangan gemilang Mario Puzo. Setelah puluhan tahun hidup seperti kere, kini saatnya menjadi raja. Apa sajayang disentuh, jadi uang. Tangan midas bekerja untuknya!
Buku, film, esai, cerita pendek. apa saja jadi uang. Dan para wartawan mengejar dan mengubernya. Anak-anak muda ingin bertemu, untuk memperlihatkan mereka "persis seperti Sonny" (tokoh dalam Godfather, anak Don Corleone).

Tak terkecuali tokoh-tokoh mafia yang sesungguhnya, ingin bertemu muka dan omong-omong dengan Mario Puzo. Mereka I sama sekali tidak percaya, bahwa Mario Puzo "tidak pernah masuk dalam dunia bawah tanah seperti mereka". Bahkan, bandit-bandit mafia itu mengatakan, "Mario pasti pernah menjadi Don!"

SATU Dl ANTARA Don murni tersebut, ingin sekali ditulis riwayat hidupnya oleh Puzo. Tapi pengarang gendut ini menolak. Dia memang tidak ingin terlibat dengan mereka, dalam bentuk apa pun.

The Godfather tampaknya memang sangat otentik (kalau Anda membacanya. rasanya pendapat ini memang benar adanya). Tapi justru di situlah keunggulan Mario Puzo: dia menulis buku fiksi, karangan, tapi pembaca yakin "sebagai yang sesungguhnya". “Padahal aku sangat menyesal buku itu tidak saya garap dengan bahan-bahan hasil penyelidikan yang mendalam," kata Puzo.

Tapi bahwa dia tahu benar lika-liku judi, benar adanya. Sejak dunia judi memang 'ditekuninya' benar-benar. Bahkan ketika a, dia pun sering pergi ke Las Vegas untuk judi.

Di tempat itu, tentu saja dia dikenal sebagai "penjudi kere". Tapi setelah Godfather, sebutan itu dengan sendirinya berubah. lagi 'degenerate gambler' (penjudi teri). tapi justru mendapat panggilan khusus: "Mr. P".

Itu tidak berarti Mario Puzo telah menghambur-hamburkan di tempat judi. Tidak. Dia tetap membatasi diri. Pokok kesenangannya berjudi jalan terus, tapi tidak sampai menghancurkan diri dan hidupnya. Apalagi keluarganya. Maka setahun Mario Puzo hanya menghabiskan 20.000 dolar.

Artinya, Mario Puzo cukup 'tahan uji' menjadi orang kaya. Tidak sombong, tidak sok, tidak mencari publikasi dengan banyak mengadakan wawancara (meski dibayar sekalipun). Malah, 'budaya wawancara' kemudian dibencinya.

"Saya tidak peduli sama sekali dengan segala macam interview," katanya atos. Pun "saya tidak suka membuat pernyataan-pernyataan yang bodoh dengan menyanjung diri sendiri".

Pendek kalimat, Mario Puzo lebih suka lari dari dunia wartawan (koran, majalah, elektronika). Ya, meski Godfather merupakan bestseller-dan urutan nomor satu-baik di Amerika, Inggris,
Jerman, dan lainnya. Pun telah diterjemahkan ke puluhan bahasa di dunia.

The Godfather : Mario Capuzo Part1

Tindakanmu seperti binatang paling buas di hutan. Untung kamu tidak memperkosa gadis itu. Kalau hal tersebut kamu lakukan, pasti aku hokum 20 tahun penjara!”.

Amerigo Bonasera gembira sekali mendengar suara hakim tersebut. Sudah sejak semula, dia menganggap dua pemuda yang coba memperkosa anak gadisnya, sebagai binatang. Maka kalau hakim berkata begitu, cocok adanya.

Hakim meneruskan bicaranya:…tapi karena kamu berdua masih muda, dan kamu belum pernah berurusan dengan polisi. Karena keluargamu baik-baik dan lagi pengadilan memang tidak bermaksud membalas dendam, maka kamu berdua aku hokum harus… masuk pendidikan anak-anak terlntar selama tiga tahun.”

Amerigo Bonasera sangat terperanjat. Anak gadisnya yang sangat cantik, satu-satunya yang dia miliki, masih terbaring di rumah sakit dan pahanya patah gara-gara perbuatan kedua pemuda itu.

Bagaimana mingkin kedua pemuda itu dibebaskan? Mereka memang anak-anak penggede, dan Amerigo Bonasera orang biasa. Inikah keadilan? Inikah Amerika?

Amerigo Bonasera sangat marah. Darahnya terbakar hebat. Apalagi setelah dilihatnya kedua anak muda itu tersenyum-senyum bangga, karena menang. Mereka, kedua anak muda itu dan keluarganya, saling berpelukan. Tertawa cukup keras. Ya, sementara anak gadis Amerigo Bonasera yang sangat cantik, satu-satunya pula, tergeletak di rumah sakit.

Peristiwa itulah yang membuat Amerigo Bonasera tak dapat mengendalikan diri.
Diri menjulurkan tubuhnya kedepan dan dengan penuh kebencian berteriak kepada orangtua kedua anak itu: “Kalian akan menagis seperti aku menangis. Aku akan memaksamu menangis seperti anakmu yang membuat aku menangis!!”

Karena teriakan itu, kedua anak muda itu, dan orangtua mereka, cepat-cepat diamankan.

Amerigo Bonasera benar-benar penasaran. Pikirannya yang dipenuhi kebencian, ingin segera membeli senjata untuk menembak kepala kedua anak muda itu, hingga remuk. Tapi yang dilakukannya kemudian adalah berpaling kepada istrinya, dan berkata; “Mereka telah berlaku bodoh kepada kita!”

Dan setelah mengambil nafas panjang, Amerigo Bonasera berkata tandas: “Untuk mencari keadilan, kita harus menghadap Don Corleon.”

Adegan diatas adalah permulan buku The Godfather karangan Mario Puzo.
Permulaan yang menggetarkan. Memaksa pembaca untuk tidak melepaskan buku tersebut sampai akhir. Karena ceritanya memang mencekam. Penuk kejutan. Luar biasa. Aneh. Ngeri tiada tara.

Kedua pemuda yang memperkosa anak Amerigo Bonasera itu, misalnya, akhirnya dihajar habis-habisan oleh anak buah Don Corleone (Godfather) sampai anggota badan mereka patah dan harus dirawat di rumah sakit sampai berbulan-bulan.
Dalam bentuk Pocket Book, tebal buku sekitar 500 halaman. Toh kita tidak ingin melepaskan begitu saja. Sebaliknya, ingin cepat menyelesaikan.

Maka layak kalau buku tersebut dicetak ulang beberapa kali. Bahkan oleh beberapa penerbit. Malahan untuk tahun 70-ana, The Godfather adalah yang paling top. Terjual samapai 13.000.000 eksemplar adalah prestasiyang luar biasa. Dibawahnya adalah The Exorcist-nya Blatty (11 juta). Love Storynya Eric Segal (9,8 juta), Jaws yang terkenal itu, karya Benchly (9 juta).

THE GODFATHER kemudian dibuat film, dengan tokoh utama actor kenamaan Marlon Brando sebagai Don Corleone (Godfather), digarap sutradara jempolan Francis Ford Cappola, dan diedarkan oleh Paramound.

Keberhasilan film tersebut, dibuktikan dengan Oscar, lambing keunggulan dunia film. Juga dibuatnya film The Godfather II dan III, yang sama suksesnya (boxoffice).

Tapi dibalik suksesnya The Godfather buku maupun The Godfather film, ternyata terpampang kisah menggetarkan pengarangnya, Mario Puzo, yang hampir saja mati konyol sebagai penulis.

Seperti katanya sendiri: “Kalu The Godfather tidak menghasilkan uang banyak, barangkali aku sudah mati.”

Apa sebab? Karena Mario Puzo dalam keadaan sangat miskin. Untuk membelikan sepatu anaknya saja, dia harus meminjam uang dari kakanya. Belum lagi masalah rumah tangga yang begitu banyak. Satu istri, lima anak, hidup di Amerika yang materialistis. Persetan dengan orang lain yang miskin atau mati konyol atau sakit atau menderita atau hamper mati atau pingsan atau senewen.

Lebih ngeri lagi, Seluruh keluarga Mario Puzo tidak memberi dorongan. Ibunya mengatakan Mario Puzo telah ‘gila’ berani hidup sebagai pengarang. Saudara-saudaranya, anak-anaknya, semua mengecam karena terbukti karir penulis tidak bisa mencukupi kehidupan mereka. “Aku sangat marah kepada mereka!” kata Mario Puzo, “sebab tak seorang pun dari mereka yang mendukungku!”

Dia ingat peristiwa tahun 1955. Waktu itu, dia sudah menerbitkan buku berjudul The Dark Arena. Meski para pengkritik mengatakan buku itu bagus, ternyata tidak laku dijual. Buku diselesaikan tahun 1935. Tapi mencari penerbit sulitnya ngudubilah setan.

Baru disetujui 15 tahun kemudian. Dan harus menunggu 5 tahun lagi untuk melihatnya sebagai buku sungguhan. Tapi hasilnya sangat mengecewakan: hanya memberikan penghasilan 3.500 dolar kepada Mario Puzo. Dipotong pajak yang hamper 50 persen dan agen 10 persen, sisanya hanya membuat Mario Puzo lebih menderita.

Dalam keadaan seperti itulah, Mario Puzo tiba-tiba diserang penyakit. Kandung empedunya memberontak, sakitnya bukan main. Mario segera memanggil taksi dan pergi ke Rumah Sakit Veteran. “Hari itu Ntal, kenang Puzo. “Begitu keluar dari mobil, aku terjatuh di…parit. Aku tergeletak. Dan berpikir: inilah aku, pengarang yang bukunya telah diterbitkan dan dinyatakan sebagai bagus? Dan aku tergeletak disini, hamper mati seperi anjing kudisan!!”

Mario Puzo benar-benar marah kepada dirinya sendiri. “Aku sudah muak jadi orang miskin!” teriaknya. “Aku harus jadi pengarang yang kaya dan termasyur!!!”


MEMETAKAN BERAKHIRNYA KEMISKINAN

Waktu itu Mario Puzo berumur 34 tahun. Sepuluh tahun kemudian , buku kedua terbit. Judulnya The Fortunate Pilgrim (1965). Para pengkritik mengatakan buku ini bagus. Mario sendiri sejak semula memang yakin bukunya baik, punya nilai sastra. Tapi…

Ya, tapi buku keduapun sama nasibnya dengan buku pertama: tidak menghasilkan uang. Malahan lebih sedikit bila dibandingkan buku pertama. Dipotong pajak dan agen.. Sisanya hanya menghasilkan kere lagi!

“Aku sangat menyukai novelku yang kedua itu,” kata Mario Puzo, dan aku menganggapnya sebagai karya seni. Tapi penerbitnya, Atheneum, punya pendapat lain. Sebuah novel klasik selamanya tidak akan mendtangkan ung!

Mario Puzo ingin jadi pengarang murni. Artinya dia hanya berurusan dengan sastra, dan bukan yang pop-pop itu. Maka dia minta diberi bantuan lagi, karena dia akan menghasilkan sebuah novel yang terbesar. Keinginan ini ditolak!

Mario sangat kecewa. Dia ingin membuat novel lain yang terbesar, yang murni, yang bernilai sastra. Tapi penerbitnya menginginkan cerita yang ada bau mafianya. Atau malah cerita tentang mafia. Menurut mereka, kisah semacam itu, akan laris. Bisa mendatangkan uang!

Apa boleh buat. Mario Puzo sudah jemu jadi kere. Umurnya sudah 40 tahun. Kalau belum bisa menghasilkan uang juga, lantas mau jadi apa?

Meski agak berat, Mario Puzo menerima juga tawaran penerbit membuat novel tentang mafia.

Dari Putnam, Mario mendapat uang panjar lumayan jumlahnya. Setelah itu, mulailah Mario mengadakan riset tentang mafia, dunia bawah tanah yang menghantui Amerika Serikat selama puluhan tahun.

Karena Mario Puzo sendiri orang Italia, maka dia mendapatkan banyak bahan dari cerita-cerita orang Italia (Sisilia khususnya) yang dikenalnya. Ditambah penyelidikannya, akhirnya menghasilkan The Godfather yang terkenal itu.

TENTU SAJA, tidak semudah pelaksanaannya. Tiga tahun mempersiapakan, jelas merupakan bukti kerja keras Mario Puzo untuk menantang nasibnya yang buruk sebagai pengarang dan sekaligus untuk membuktikan dia bisa menulis buku yang menghasilkan uang banyak. “Aku tidak merasa sangsi bisa menulis sebuah novel yang bakal menjadi bestseller!” katanya.

Pada bulan juli 1968, selesailah karangan itu. Karena Mario Puzo sudah tidak punya uang lagi. Dan disamping itu, dia sudah menjanjikan kepada istrinya untuk diajak ke Eropa (yang sudah ditinggalkan selama 20 tahun). Maka naskah tersebut diserahkan kepada penerbit dan Mario minta (pinjam) 1.200 dolar. “Sebelum saya pergi, “ kata Mario. “Saya minta kepada penerbit jangan memperlihatkan naskah saya itu kepada siapapun, sebelum saya kembali dari Eropa.”

Ketika kembali, penerbit Putnam hanya sanggup memberi 375.000 dolar. Mario sendiri meminta 410.000. “Untuk buku paper-back, 400.000 dolar saja sudah merupakan rekor tertinggi!” kata pihak Putnam.

Mario Puzo tidak mau kurang lagi. Maka bersama rekannya dari Putnam Mario keluar masuk penerbit di New York. Akhirnya Fcwett setuju membayar yang diminta Mario, setelah pengarang ini sehari suntuk berputar-putar dan lupa makan.

Kabar itu benar-benar sangat menggembirakan. Uang 400.000 dolar lebih (berarti Rp. 3 miliar lebih) tidaklah sedikit. Dalam seluruh karirnya sebagai pengarang, uang sebanyak itu belum pernah dimilikinya. Bahkan separonya pun belum pernah. Tapi kini, Rp. 3 miliar bukanlah suatu impian. Maka ketika seluruh keluarga Mario Puzo diberitahu (ibu, kakak, adik, anak-anak, istri) bahwa dia telah menjual bukunya seharga Rp. 3 miliar lebih, tak seorangpun yang percaya. Baru keesokan harinya, mereka yakin, apalagi setelah Mario Puzo memperlihatkan cek 100.000 dolar yang merupakan sebagian dari pembayaran yang harus diterimanya.

Mereka pesta. “Kini berakhirlah kemiskinan!” teriak Mario Puzo. Tapi uang 100.000 dolar tersebut (artinya sekitar 900.000 juta), ludes dalam waktu hanya 3 bulan. Digunakan untuk membayar hutang-hutang yang dia tumpuk selama dalam masa kere.

Benarkah kata Puzo: kalau Godfather tidak menghasilkan uang banyak, saya sudah mati!

Sebabnya jelas: Puzo mengidap penyakit yang sewaktu-waktu (kalau dia tidak punya uang untuk membayar dokter dan obat) merenggut nyawanya. Disamping itu, hutangnya sudah menggunung. Ditambah gencetan istri, anak-anak, orangtua, dan saudara-saudaranya yang semuanya menyalahkan Puzo “telah berani hidup sebagai pengarang”.

PERTARUHAN Mario Puzo dengan dunia karang-mengarang memang riskan sekali.

Lahir di New York dari keluarga miskin (ayahnya hanya pekerja kereta api), Puzo tumbuh di lingkungan miskin pula. Dia sudah harus mencari uang pada usia 6 tahun, sebagai kacung. Sedikit besar gemar judi.

Barangkali dia akan menjadi bajingan atau pemuda ugal-ugalan, seandainya ia tidak bertemu dengan perpustakaan yang memberinya kesempatan membaca buku macam apa saja. “Pada musim panas,” kata Mario Puzo, “aku menjadi perempuan”. Aku membaca buku-buku. Pada usia sangat muda, aku sudah mendapatkan dan kemudian menikmati perpustakaan.”

Mario Puzo gemar membaca di Hudzon Guild, dan berkenalan baik dengan petugasnya, Joseph Altshler, yang suka bercerita pula.

Tapi yang paling menarik bagi Puzo, tentu saja buku-bukunya. Sebab lewat buku-buku itulah calon pengarang ini berkenalan dengan orang-orang besar dunia. Seneca, Sabatini, Don Savage, dan lainnya. “Lalu, barangkali pada umur 14 atau 15 dan 16,” katanya, “Aku menemukan Dostoyevsky. Aku membaca semua buku karyanya yang dapat aku raih. Aku menangis untuk Pangeran Myskin dalam The Idiot. Dan aku merasa bersalah sebagaimana Raskolnikov. Aku mengerti, untuk pertama kali, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku dan orang-orang sekelilingku.”

Tentu saja Mario Puzo sangat tergugah keadarannya, karena karya-karya Dostoyevsky memang sangat mendalam. Mengupas segala watak manusia hingga konon, memberikan ilham kepadaSigmund Freud untuk penemuannya yang terbesar , yaitu lika-liku bawah sadar manusia. Ilmu Jiwa Dalam.


Dari bacaan itu, Puzo kemudian ingin jadi pengarang. Tapi keinginan ini mendapat tentangan dari ibunya. Baiklah. Mario kerja dan menabung. Dia ingin punya pacar tetap yang sangat dicintainya. Tapi gadis itu ternyata lari. Puzo pun minggat ke eropa, keliling kota-kota besar. Dengan Jip, terutama. Mengadakan kencan dengan gadis-gadis cantik. Akhirnya Puzo justru mendapat istri.

Petualangan di Eropa itu, merupakan bahan utama buku Mario Puzo yang pertama, The Dark Arena.


Jumat, 29 Oktober 2010

Awal Bencana Bagi Merkava

Beginilah kontradiktif perang asimetris yang berlangsung antara Israel dengan kelompok perlawana di Palestina dan Libanon. Sebuah Mk 3D berupaya melindungi diri dengan menebar tabir asap dari engine exhaust saat mendapat serangan pasukan pasukan pelempar batu Palestina dekat kamp pengungsi Balata, Nablus-West Bank.


Ketika diluncurkan pertama kali, Merkava langsung digunakan dalam invasi ke Libanon pada 1982. Kesuksesan besar diraih dengan menghancurkan tank-tank Suriah. Akan tetapi 24 tahun kemudian di tempat yang sama, Merkava mengalami kekalahan telak. Apa gerangan yang terjadi?

Pada tahun 1982, Faksi Fatah yang saat itu masih merupakan faksi sempalan kecil dari PLO (Palestinian Liberation Organization) melakukan upava pembunuhan terhadap duta besar Israel untuk Inggris, Shlomo Argov. Selain itu PLO juga melakukan serangan roket Katyusha ke wilayah padat penduduk di utara Israel.

Walaupun tidak ada indikasi keterlibatan PLO dalam peristiwa penyerangan duta besar, kedua peristiwa ini langsung dijadikan justifikasi bagi Israel untuk mengenyahkan PLO dari Libanon, yang saat itu sering melakukan aksi pemboman dan pencmbakan roket kc wilayah Israel dari Libanon. Maka pada 6 Juni 1982, Pemerintah Israel meluncurkan Mivtsa Shalom HaGalil (Operation Peace of the Galilee).

Sebagai respon atas perintah operasi tersebut, IDF mengirimkan puluhan F-16 dan F-15 untuk melakukan bombardir atas posisi PLO. Sementara ratusan tank Merkava Mk 1 dikerahkan guna menaklukkan posisi-posisi yang tak terjangkau serangan udara. Merkava Mk 1 yang saat itu benar-benar masih gress menjadi ujung tombak hampir setiap pergerakan lapis baja.

Di jalan yang terletak di tepi pantai, Merkava Mk 1 membuka jalan dari Rosh Hanikra ke Sidon, Damur dan Beirut. Di sepanjang jalan ini terdapat puluhan titik perkuatan PLO dilengkapi AT-3 dagger dan RPG-7 pemberian Suriah dan Uni Soviet.

Perjalanannya dilukiskan oleh salah satu komandan tank Israel sepcrti neraka. "Hampir setiap 100 meter para pejuang PLO menembakkan RPG-7 dari jarak hanya 3-10 meter dari tubuh tank, belum termasuk yang menembak dengan AK-47 dari RPK. Namun semua serangan tidak mampu menembus lapisan baja Merkava. Hanya sedikit efek ledakan yang mampu menembus lapisan baja, itu pun tidak sampai ke bagian dalam sehingga kru tetap selamat."

Sementara di sektor timur, formasi Merkava melakukan gerakan menusuk langsung dengan dukungan helikopter AH-1 Cobra. Tujuannya menghancurkan kekuatan Suriah di Lembah Beka'a. Pada hari ketiga, perang skala penuh dengan Suriah meletus. Suriah menggunakan semua senjata antitank yang dimilikinya. Mulai dari recoiless rifle 105 mm, rudal TOW, LAW 72 sampai AT- 3.

Beragam kaliber peluru tipe HEAT dan APFSDS menghantam bodi Merkava. Beberapa memang mampu menembus lapisan baja dan mcrusak mesin. Berkat dukungan dari tank lain dan kru perbaikan, Merkava yang rusak tadi bisa kembali berfungsi kurang dari satu hari. Sebuah rekor yang sangat luar biasa pada waktu itu.

Penggunaan El-Op Fire Control System yang sangat akurat membantu Merkava untuk membidik target dengan sangat akurat pada jarak jauh. Ditambah amunisi tipe APFSDS tipe "arrow", tidak ada lapisan baja yang mampu menahan keganasan meriam 105mm Merkava. Kulminasi pertempuran di wilayah timur terjadi ketika Merkava harus berhadap-hadapan dengan tank T-72 milik Suriah dari , Brigade 73. Tank-tank ini dilengkapi kanon 125mm, yang saat itu merupakan diameter meriam tank terbesar di antara MET dunia.

Pertempuran dibuka dari jarak jauh. Merkava sudah bisa menembak dari jarak 5.000 meter dengan akurasi jempolan, sementara T-72 masih mandul karena tidak memiliki laser range finder. Segera setelah tembakan pertama dilepaskan, beberapa T-72 langsung berubah menjadi bola api raksasa. Ketika pertempuran memasuki jarak dekat, berbagai rudal antitank dari kedua kubu turut membantu. Tertwata, pada jarak dekat meriam 125 mm T-72 pun tidak mampu bicara banyak. Hanya 3 atau 4 Merkava yang benar-benar rusak akibat hantaman meriam T-72.

Akhirnya, hampir seluruh T-72 Suriah dihabisi, sementara yang menyerah, tanknya dijadikan pampasan perang untuk dipajang sebagai tropi. Kekalahan di wilayah timur ini membuat PLO dan Suriah terkepung ke wilayah barat. Akhirnya hanya dengan bantuan PBB pasukan Suriah dan PLO dapat kcluar dari Libanon dalam keadaan hidup-hidup.

Libanon II

Konvoi Merkava Mk 1 di jalanan Libanon. Kekalahan telak yang dialami IDF dan khususnya armada MBT Merkava di Libanon baru lalu, tak sepenuhnya berasal dari kelemahan tank. Sejumlah sebab eksternal turut menyokong memblenya performa Merkava dalam medan perang modern

Pasca Libanon, tidak begitu banyak terdengar kiprah Merkava, terutama karena negara-negara Arab mcrasa ngeri untuk membuka fron kembali dengan Israel. Belajar dari Yom Kippur, ncgara seperti Iran dan Suriah memilih untuk menyelundupkan senjata saja kepada Hizbullah. Hanya ketika gerakan Intifada meletus pada 1996, Merkava dikirim ke wilayah Palestina untuk mengontrol keadaan. Selain itu, pada tahun yang sama operasi Grapes of Wrath diluncurkan untuk memerangi Suth Lebanese Army.

Baru disinilah terungkap kelemahan Merkava. Tiga Merkava menjadi korban ketika ranjau seberat 100 kilogram yang dikendalikan remote jarak jauh diledakkan tepat ketika Merkava melintas. Insiden ini membunuh kru dan pasukan yang ada di dalamnya. Ternyata Merkava amat lemah di lapisan bawah, sesuatu yang juga jamak ditemui di tank buatan negara lain.

Segalanya berubah jauh lebih drastis lagi ketika pada tanggal 12 Juli 2006, Hizbullah melakukan serangan Katyusha ke wilayah Israel utara yang berisikan penduduk sipil. Pada saat yang sama pejuang Hizbullah menculik tiga tentara Israel untuk ditukar dengan tawanan yang ditahan di kamp militer Israel. Parlemen Israel langsung bereaksi, dan mengizinkan pembalasan lebih keras lagi.

Kepala Staf AB Israel, Letnan Jenderal Dan Halutz (mantan pilot F-4 dan F-16) ketika diwawancarai Channel 10 Israel mengatakan, "Jika prajurit kami tidak dikembalikan, kami akan memutar waktu Libanon ke keadaan 20 tahun lalu." Segera icsudah itu, jet-jet tempur Israel meluluhlantakkan jembatan, gedung, menara komunikasi dan segala infrastruktur yang mereka curigai menjadi basis tentara Hizbullah. Sebanyak 400 Merkava diterjunkan kembali, kali ini dengan varian Mk 3B LIC yang memang sudah dirancang iintuk perang kota.

Pada awalnya kepercayaan iwak tank sangat tinggi, mengingat Merkava sudah terbukti sukses di Libanon tahun 1982 dan 1996. Namun apa Incur, ternyata 50 Merkava berhasil dirusak oleh pejuang Hizbullah, sementara korban jiwa jatuh sebanyak 30 orang meninggal, termasuk 2 komandan batalion sementara 100 lainnya terluka.

Setelah dilakukan penyelidikan mendalam, didapat faktor eksternal dan internal penyebab kegagalan Merkava. Pertama, pejuang Hizbullah disuplai rudal Metis-M. dan Kornet oleh Iran. Rudal antitank generasi terakhir buatan Rusia ini sangat ampuh menembus lapisan baja, sehingga banyak Merkava yang jadi korban keganasan Metis-M. Sementara faktor kedua lebih dilihat dari sisi internal.

Pemotongan anggaran menyebabkan waktu latihan kru tank dikurangi. Akibatnya banyak awak yang belum memiliki jam terbang cukup untuk mengendalikan Merkava dengan efektif. Lebih buruk lagi, para kru tank terkejut karena mereka harus masuk ke Libanon tanpa ada smoke discharger unit terpasang pada Merkava mereka. Pengetatan anggaran menyebabkan tidak ada dana untuk membeli smoke discharger maupun peluru asap untuk mortir soltam 60mm.

Tanpa adanya smoke dis¬charger, Merkava tidak dapat mengamuflasekan diri dengan tabir asap. Padahal di medan perkotaan Libanon Merkava lebih sering berada dalam posisi statis untuk melakukan patroli, mem-buat checkpoint dan menentukan arah. Kombinasi dari kedua faktor inilah yang menyebabkan kiprah Merkava menjadi memble di tempat seharusnya mereka bisa mengulangi kemenangan yang manis.

Para Pemburu Merkava

Dalam perang Libanon I, Mk 1 sudah merasakan rudal antitank PLO. Kejadian itu kembali terulang ketika Israel menyerbu Libanon Juli lalu. Mungkinkah ini akhir dari Merkava atau sebaliknya awal dari kelahiran mesin perang yang lebih tangguh.


Gencatan senjata akhirnya diterima oleh Israel. Bagi Hizbullah berarti kemenangan. Hari-hari pun dilewati tanpa harus mengincar dan mata melotot tak kenal tidur. Itulah yang dirasakan dua pejuang Hizbullah kepada Deutsche PresseAgentur, di Desa Aitroun, Libanon Selatan, seperti dikutip kantor berita Antara News (17/8/2006). Kampung mereka menghadap ke permukiman Israel di seberang perbatasan.

Pemuda-pemuda belia ini menyebut diri mereka "pemburu" Merkava. Tugas mereka memonitor Mertkava yang bergerak masuk ke wilayah Libanon, dan kemudian menghancurkannya dengan senjata antitank. Mengenakan seragam tentara, para pejuang mudayang berusia jelang 20-an tahun itu berbicara enteng tentang malam-malam tanpa tidur dan berbagai kegiatan militer selama serangan gencar Israel.

"Kami memburu tank-tank ini seperti burung," kata mereka. "Kami sebetulnya dapat menghancurkan lebih banyak lagi tank jika perang masih berlanjut," ujar seorang pemuda berusia 1 8 tahun, yang dengan perasaan berat hati tak bersedia mengungkap namanya. Kedua pemburu Merkava itu memakai kacamata hitam trendy, mengenakan helm militer dan menenteng senapan. Mereka menolak mengungkapkan jenis roket yang digunakan untuk menghancurkan tank-tank Israel. Seorang lagi yang tengah meneropong dengan binokuler ke wilayah Israel, berkata kepada para wartawan asing dalam bahasa Inggris yang lancar dan selektif. "Ini seperti memainkan war game di Play Station," aku pejuang lainnya dengan senyum malu-malu. Menurut Hizbullah, sekitar 60 Merkava telah dihancurkan selama serangan.

Kedua pejuang Hizbullah ini juga menceritakan hari-hari saat mereka dihujani bom dari F-16 Soufa Israel. "Lihat helm saya," ia berkata sambil menunjukkan lubang bekas pecahan peluru meriam. "Jika saya tidak menggunakan helm ini, mungkin sudah mati syahid." Para pejuang Hizbulah merasa bangga jika mati syahid, dengan keyakinan bahwa tewas pada saat membela tanah air dari agresi Israel akan membawa mereka ke keabadian surga.

Metis-M


Rudal 9K115-2 Metis-M atau oleh pihak Barat dikenal dengan kode NATO AT-13 Saxhorn, merupakan rudal antitank generasi akhir Rusia yang mulai masuk dinas aktif pada 1992. Sistem rudal ini terdiri atas tiga bagian: 9M131F ATGM, launcher un/f9P151 dan 1PBN86-V1 thermal sight. Sistem rudal ini sangat portable, artinya mudah dilipat dan dibawa prajurit. Hanya diperlukan 2 kru untuk mengoperasikan Metis. Seorang sebagai penembak, satunya lagi bertugas membawa amunisi cadangan. ATGM 9M131F memiliki warhead tipe tandem HEAT yang mampu menembus lapisan ERA yang banyak terpasang pada MBT.

Jarak efektif yang mencapai 1,5 kilometer, beratnya hanya 13,8 kilogram, sistem penembakan yang mudah dan minimnya biaya perawatan membuat rudal ini disukai. Pejuang Hizbullah memperoleh Metis-M melalui Suriah, yang membeli langsung ke Rusia. Dalam pengoperasiannya, pejuang Hizbullah membentuk 1 tim terdiri atas 2 orang yang rata-rata berumur 16-23 tahun. Mereka bertugas sebagai Merkava hunter. Saat diwawancara jurnalis AFP, salah satu anggota tim mengaku kalau tugas memburu Merkava termasuk mudah. "Tank-tank itu diam seperti batu, sementara menembakkan rudal ini rasanya seperti permainan Play Station yang saya mainkan di rumah." Akibatnya, 25 Merkava lumat oleh kesaktian Metis-M


Minggu, 24 Oktober 2010

SIHIR HARRY POTTER J.K. ROWLING Part2


BELAJAR DARI JANE AUSTEN DAN SHAKESPEARE

PADA MULANYA, J.K. Rowling mengaku: dia menulis seri Harry Potter 'hanya untuk diriku sendiri'. Untuk menyenang-nyenangkan hatinya, karena saat itu dia memang tengah dalam situasi sulit Jadi janda muda, miskin, harus pula menjadi singleparent. Ketika buku pertamanya diterbitkan, lalu disusul seri kedus Rowling mengatakan: dia menulis 'untuk anakku Jessica'. Mungkin maksudnya: setelah Jessica nanti cukup besar, karena saat iti umurnya baru sekitar 5-6 tahun.

'Untuk Jessica' juga dimaksudkan demi hari depan anak perempuannya itu. Sebab kalau seri Harr Potter laris dan menjadi bestseller, otomatis dolar akan mengali deras ke rekeningnya di bank. Berarti pula hari depan Jessie terjamin! Tapi ketika Jessica mulai masuk sekolah pada usia 7 tahun Rowling harus mengoreksi pernyataannya.

Sebab, saat Jessie masuk sekolah, dia selalu... dikerubungi anak-anak lain yang lebih besar. yang usianya di atas 10-11 tahun, dan mereka semu; menuntut agar Jessica mau 'menceritakan kelanjutan cerita Harry Potter'!

Artinya: anak-anak kakak kelas Jessica, pada umumnya sudah membaca serial Harry Potter itu, dan penasaran ingin mengetahui kelanjutannya. Karena mereka tahu Jessica anak perempuan J.K. Rowling, pengarang Harry Potter, maka mereka meminta Jessica mau menceritakan kelanjutan kisah Ahli Sihir Muda itu!

Padahal, Jessica sendiri... hingga saat itu belum membaca serial Harry Potter tersebut. Rowling pun juga 'belum ingin membacakan buku (Harry Potter)' untuk anak perempuannya itu.'

Masalah itu kemudian dipecahka-n dengan: Rowling mengunjungi sekolah Jessica, dan bertemu dengan kakak-kakak kelasnya. "Jessica masih terlalu muda dan dia belum bisa menjawab pertanyaan kalian," kata Rowling. "Sebab dia belum bisa membaca buku!"

Rowling kemudian meng-usulkan jalan tengah: dia akan membacakan sebagian buku Rowling karangannya itu, lalu disusul dengan... tanya jawab. Anak-anak kakak kelas Jessica, Pemeran Harry Potter gembira bukan main. Dua kelas kemudian dikumpulkan dan terjadilah 'tatap muka dan tanya jawab' dengan Rowling. "Sungguh menyenangkan, dan masalah itu pun selesai!"

Tapi, ternyata, Jessica kemudian menuntut: kalau anak-anak lain sudah membaca dan mengetahui isi cerita seri Harry Potter, kenapa dia, anaknya perempuan sendiri, rnalah 'belum tahu'? Rowling pun akhirnya membacakan buku-bukunya itu untuk Jessica. Di kemudian hari, tentu saja Jessica bisa membaca sendiri. Seperti anak-anak lain, Jessica pun akhirnya menjadi 'fans berat Harry Potter'!

Tapi, Jessica tetap tidak mengetahui 'bagaimana kelanjutan ceritanya'. Sebab hal itu merupakan 'rahasia perusahaan'. Atau 'rahasia pengarangnya', agar bukunya tetap menimbulkan surprise bagi pembacanya.

TAPI APAKAH serial Harry Potter memang untuk anak-anak? Tidak. Paling tidak, itulah kenyataan yang terjadi di lapangan. Benar, pemburu utama buku-buku Harry Potter adalah anak-anak. Tapi kakak-kakak mereka, bahkan orangtua mereka, ternyata 'juga ingin tahu'. Dan, setelah membaca, menjadi keranjingan pula.

Kalau begitu, apa 'rahasia sukses' novel novel Harry Potter? Pertama: bagi |.K. Rowling, pengarangnya, 'buku menarik tetaplah buku menarik'. Artinya: tak peduli pembacanya anak kecil atau dewasa.

Kedua: kisah-kisah mengenai keajaiban (dalam hal ini dunia sihir), atau dunia hantu (ghosts) akan selalu menarik sepanjang zaman. Dari dulu hingga sekarang, orang selalu senang membaca buku-buku seperti itu.

Ketiga: ketegangan. Suspens. Thriller. 'Ingin mengetahui apa jarang akan terjadi kemudian', selalu membuat tegang pembaca. Tak peduli dia anak-anak atau dewasa. Ya, mirip cerita detektif.

Keempat: selalu ada kejutan. Surprise. Peristiwa tak dinyana. Atau, menurut Rowling: "pembaca itu suka dikibulin. Ditipu. Senang pada trick!"

Kelima: pendeknya, secara keseluruhan, plot cerita harus benar-benar dipikirkan. Harus 'selicik' mungkin. 'Aku memang sangat bernafsu dalam membangun plot," kata Rowling. Dia belajar banyak, antara lain dari pengarang masyhur Inggris, Jane Austen. "Khususnya karyanya berjudul Emmal" katanya.

Annie Williams, Wakil Kepala Sekolah di Camden, menyebut 'rahasia sukses' buku Harry Potter adalah: "potions, intrigue, magic, and what happens next" (minuman, intrik, keajaiban, dan apa yang akan terjadi). Singkatnya, menurut pengamatan Annie: "formulanya persis (karya karya) Shakespeare!"

Walhasil: kalau Rowling sendiri 'belajar dari Emma-nya Jane Austen', ternyata Annie malah menunjuk 'formula Shakespeare', sebagai rahasia sukses karya-karyanya!

KESEMPURNAAN BUKU DAN FILM HARRY POTTER

TENTU SAJA J.K. Rowling, pencipta serial Harry Pottering mega-bestseller, tidak hanya 'belajar' dari novel Emma karangan Jane Austen. Meski menurut pengamatan Annie Williams 'formula' Harry Potter sama dengan formula Shakespeare dalam menuliskan cerita-ceritanya, tapi Rowling sendiri sepertinya tak pernah menyebut pujangga Inggris paling masyhur itu. Meski tentu saja.dia juga membacanya. mengingat dia sendiri sarjana sastra.

Ada logikanya kenapa Shakespeare tidak 'disangkut-pautkan' dengan karya-karyanya. Pertama, karya-karya Shakespeare umumnya berat atau bahkan 'sangat berat', atau murni sastra. Sementara karya Rowling. khususnya serial Harry Potter ini, lebih bersifat 'menghibur' dan karena itu 'tidak perlu bersusah-susah dengan fllsafat dan sebagainya'.

Kedua: Shakespeare memang menulis untuk 'dunia orang dewasa' atau bahkan 'masyarakat sastra atau budaya'. Sementara Rowling 'menulis untuk anak-anak', meski kemudian bisa dinikmati orang dewasa. Bahkan, pada mulanya, Rowling 'menulis untuk diri sendiri'. Untuk membunuh waktu-waktu sepinya. Sekaligus... mengekspresikan 'isi kepalayang sudah penuh' setelah puluhan tahun selalu membaca dan membaca dan membaca cerita. Sebab : rnemang dari ibunyalah dia mewarisi kecintaannya pada buku dar sastra. Sehingga dalam usia 6 tahun pun Rowling sudah menulis:

Tapi untuk spesifikasinya, Rowling memang mengaku membaca berulang-ulang karya-karya Jane Austen, khususnya novel Emma. Dia juga menikmati karya Roddy Doyle, yang bahkan dikatakai 'penulis favorit saya'. "Dia memang jenius!" komentarnya.

Selain itu, masih cukup banyak pengarang atau buku yang jadi favoritnya. Antara lain: Elizabeth Goudge dengan The Little Whh Horse-nya. Paul Gallico (pengarang Inferno yang terkenal itu) dengan Manxmouse-nya, yang dinilainya "sangat bagus". Tak lupa Clement Freud dengan karyanya Grimble, "Buku paling lucu pernah saya baca".

"Aku juga tak pernah melupakan AA Milne," katanya, penulis yang menciptakan tokoh macam Pooh, Tigger, dan Piglet. Artinya: setiap pengarang memang punya pengarang favoritnj sendiri-sendiri. Bisa tiga empat orang, bisa setumpuk, tergantu yangbersangkutan. Dan, biasanya, buku buku yang dibacanya juga... mempengaruhinya. disadari atau tidak. Wajar. Karena itu juga terjadi pada pengarang dunia macam Tolstoy, Erne, Hemingway, dan seterusnya.

Maka, hal yang wajar pula, kalau all out-nya Rowling dalam menciptakan serial Harry Potter-nya, memberinya tuah berganda. Selain membuatnya menjadi 'orang terkaya di Inggris' dengan penghasilan sekitar Rp. 4 miliarsehari! dan mengalahkan kekayaan Ratu Elizabeth II, Rowling juga benar-benar mendunia. Setumpukj penghargaan pun diberikan kepadanya: Scottish Arts Coundj Award, Children's Book of the Year (dari British Book Awards) Cold Award Winner (dari Smarties Prize), National Book Award, Children's Book Award, American Bookseller Book Award, dan lainnya.

SALAH SATU ciri buku terkenal atau bestseller adalah ini: dibuat film. Begitulah yang terjadi dengan War and Peace-nya Tolstoy, Gone with The Wind-nya Margaret Mitchel, The Godfather-nya Mario Puzo, dan setumpuk lainya. Tapi film sering tidak memuaskan pengarangnya. Mereka sering tidak bisa menerima adanya perbedaan 'dunia buku' dengan 'dunia film'. Pengarang maunya: film digarap persis seperti bukunya. Hal ung memang tidak mudah. Atau, bahkan, sering tidak mungkin. Bagaimana dengan serial Harry Potter-nya Rowling?

Kebetulan ada persamaan antara produser Warner Bros dengan pengarangnya: Harry Potter sudah demikian digandrungi pembacanya, khususnya anak-anak. Maka, kalau dibuat 'agak jauh berbeda', penonton akan sangat kecewa. Karena itu, "harus diusahakan sedekat mungkin dengan bukunya."

Untuk tugas itu, penulis skenarionya, Steve Kloves, mengadakan pertemuan khusus dengan Rowling. Rowling sendiri semula khawatir Cloves tidak bisa menangkap apa yang dia inginkan. Ternyata keliru. Segera setelah perjumpaan pertama, 'ada persamaan persepsi' antara dirinya dengan Kloves. Bahkan juga dengan tokoh-tokoh favoritnya.

Maklumlah, Kloves sudah berpengalaman puja dalam menggarap The Fabulous Baker Boys.

Hal yang sama terjadi dengan sutradara Chris Columbus,yang punya pengalaman menggarap Gremlins, Young Sherlock Holmes dan yang paling top: Home Alone dan Mrs.Doubtfire. Columbus bahkan terkagum-kagum, karena meski buku Rowling baru terbit 6 jilid, tapi "akhir buku itu di jilid ke-7, sudah ada di tangannya" Artinya: seluruh materi dan plot serial Harry Potter, dari jilid i hingga VII, benar-benar 'sudah dikuasai' atau 'sudah lengkap di kepala Rowling'.

Rowling pun mengikuti audisi para calon aktor aktris serial Harry Potter, khususnya pemeran utamanya. Dan ternyata pa pula seperti yang dia bayangkan!

Walhasil: kalau buku maupun film Harry Potter menjad bestseller dan boxoffice, wajar. Sebab semua dikerjakan dengan sesempurna mungkin. Perfect!.

Kesempurnaan itu menjadi lengkap, karena JK Rowling pui kini sudah menikah lagi dengan seorang dokter, dan dikaruniai anak pula. Berarti Jessica tak kesepian Iagi!

Rabu, 20 Oktober 2010

SIHIR HARRY POTTER J.K. ROWLING Part1

Barangkali tidak ada buku dan film, yang menghebohkan sedemikian ‘dahsyat’, seperti karya janda satu anak J.K. Rowling ini. Ketika di premierkan di London, misalnya, film berjudul Harry Potter and the Sorcerer’s Stone itu dihadiri oleh para selebriti dunia. Termasuk diantaranya Sting, Duchess of York (Istri Pangeran Andrew) dengan dua putrinya (Princess Beatride dan Eugenie), Jerry Hall yang mantan istri rocker andal Mick Jagger, penyanyi Cher yang tahan karir, bintang Spice Girl Emma Bunton dan seabrek lainnya.

Film yang dibuat dengan biaya 120 juta dolar itu (tampaknya besar) diperkirakan akan menghasilkan…miliaran dolar. Berarti keuntungannya sangat luar biasa. Ratusan kali lipat dari modal!

Minimalnya, hingga pertengahan 2002, film tersebut masih akan diputar di seluruh penjuru dunia. Meski pemutarannya di banyak Negara dilakukan serentak. Di Amerika misalnya, film itu diputar di lebih dari 4.000 gedung bioskop atau theater. Melebihi rekor film Shrek yang hanya 3.715 theater.

Apa yang menyebabkan heboh luar biasa itu? Pertama, tentu bukunya sendiri. Buku Harry Potter ini dibuat 7 seri. Sekarang 2005, sudah sampai 6, jadi masih ada satu seri yang harus diselesaikan Rowling.

Tapi dari 4 buku saja, sudah terjual 116 juta eksemplar. Dan hingga seri 6, sudah terjual 270 juta eks. Diterjemahkan ke dalam 47 bahasa, dan dicetak di lebih dari 200 negara.

Ketika akan dibuat film, Rowling menolak kalau para pemerannya dari Amerika Serikat. Rowling agaknya fanatik Inggris. Tapi barangkali dia punya pikiran begini : orang yang dapat menggambarkan watak inggris, hanyalah orang inggris.

Karena masa depannya sangat cerah, Warner Bros mengalah. Dan ternyata benar, Harry Potter meledak luar biasa! Tapi Warner Bros tidak melulu mengandalkan kenyataan bukunya menjadi bestseller di seluruh dunia. Mereka pun melakukan kampanye besar-besaran, khususnya di Amerika, di hamper semua jalan, ada saja Harry Potter atau kawan-kawannya. Selain poster, tentu saja segala macam yang dimungkinkan, dari kaos, gantungan kunci, hingga peralatan yang dimiliki Harry Potter.

Singkatnya perusahaan film itu berkampanye habis-habisan untuk mematangkan public menyambut kedatangan fim tersebut. Akibatnya, meski film itu sendiri belum diputar, publik sudah memberinya pujdalam bentuk : ratingnya termasuk ‘jenderal besar’ alias 5 bintang!

Perusahaan minuman Coca Cola yang juga melihat potensi pasar yang luar biasa, mengerahkan pula jutaan dolar untuk menangguk ‘keuntungan di air bening’. Mereka, misalnya menyediakan 29 juta produk mereka kemasan 20 ons, untuk… diberikan gratis kepada masyarakat.

Tentu semua dengan embel-embel Harry Potter. Bahkan untuk memancing seluruh anggota keluarga, perusahaan itu juga menyediakan hadiah khusus yang membuat fans ngiler, kunjungan ke kastil Hogwarts untuk 100 keluarga Amerika (berarti empat orang, dua orangtua, dua anak).

Karena sukses luar biasa itu pula, maka Warner Bros langsung menyiapkan Harry Potter Part II, atau judul aslinya Harry Potter and the Chamber of Secret. Fim ini langsung mulai syuting begitu Part-1nya dirilis 16 November.

Karena kemungkinan masa depannya yang luar biasa, maka Part III-nya langsung digarap pula. Paling tidak skenarionya yang dilakukan oleh Steven Moves. Ada diberitakan juga tokoh besar perfilman Hollywood, Spielberg, tertarik membuat Harry Potter ini, khususnya Part IV.

Kurang jelas apakah ambisi Spielberg ini dapat terwujud atau tidak. Tapi kalau Rowling mengangguk, mungkin hasilnya akan lebih spektakuler. Bagaimanapun : nama Spielberg merupakan jaminan!

Tapi di tengah hiruk pikuk sambutan luar biasa terhadap buku dan film Harry Potter, mencuat berita mengejutkan : Pastor Jack Brock dari New Mexico, siap membakar buku-buku Harry Potter itu karena dinilai “sangat membahayakan” pendidikan anak-anak.

“Buku-buku Harry Potter telah menghancurkan kehidupan anak-anak!” katanya sengit. “Mendorong mereka (anak-anak) percaya pada sihir dan mantra. Dan itu berarti menghina Tuhan!”.

HARRY POTTER DIPUJA, HARRY POTTER DIGUGAT

PASTOR Jack Brock (74) dari New Mexico menilai, buku maupun film Harry Potter sangat membahayakan pendidikan anak-anak. Jack Brock kemudian berkampanye agar buku-buku Harry Potter dibakar. Dan kepada mereka yang telah membaca atau menikmati buku-buku Harry Potter, diharapkan "segera bertobat dan membersihkan diri dari menyembah setan!"

Kemungkinan besar, Jack Brock adalah orang pertama yang memberikan reaksi sangat keras pada buku maupun film Harry Potter. Tapi pengarang buku itu, J.K. Rowling, tidak gusar pada reaksi keras itu. Pertama, karena yang bereaksi negatif nyatanya tidak banyak. Kedua, Rowling telah bertemu dengan ribuan anak pembaca bukunya, dan tak seorang pun yang mengindikasikan mereka telah 'menyembah setan' hanya karena membaca Harry Potter. Ketiga: secara umum Harry Potter diterima dengan oleh publik dunia. Terbukti, jilid baru selalu disambut lebih dibanding buku-buku sebelumnya!

Meski secara terbuka reaksi keras atas Harry Potter tidnk banyak, tapi dari sudut pandang agama, dunia sihir men dilarang. Sihir identik dengan setan. Karena itu, pelakunya be penyembah setan! "Tidak ada itu yang namanya sihir putih atau sihir hitam!" I seorang pemuka agama. "Sihir tetap sihir. Dilarang agama!"

J.K. Rowling sendiri menolak dituduh sebagai 'penganjurklenik’ atau 'dunia setan'. "Sungguh saya heran, kalau ada pembaca) berpikiran saya penganjursihiryangserius," katanya. "Saya send justru tidak percaya kepada ilmu sihir, dalam arti sebagain yang mereka bicarakan!"

Rowling tertarik pada dunia sihir, hanya sebatas pada 'keajaibannya'. Atau pada sensasi yang dibuatnya. "Saya pikir sumber ini (dunia sihir ini) sangat menyenangkan. Merupakan seni Sihir selalu menjadi tema literatur anak-anak sepanjang manustfi ada!" katanya penuh keyakinan.

Toh begitu, kalau ada orangtua melarang anak-anaknya membaca Harry Potter, Rowling oke-oke saja. "Tak jadi masalah," katanya. Sebab mereka melarang atau tidak melarang, memang hak mereka. "Tapi kalau mereka (para orangtua) melakukan sensor (atas buku-buku Harry Potter), saya menentangnya dengan keras. Sebab buku menjadi tidak utuh lagi!"

KEGILAAN pada Harry Potter memang luar biasa. Menjelang jilid keempat dilempar ke pasar Juli 2001, misalnya, terlihat pemandangan menakjubkan ini: sejak pukul 15.00, jutaan anak (sebagian ditemani orangtua) telah antre di depan toko buku. Padahal, buku baru dijual keesokan harinya. Hal ini juga terjadi pada buku kelima dan keenam.

Tapi karena jutaan anak itu ingin 'memperoleh kesempatan pertama' membeli buku tersebut, maka, mereka rela... menginap di depan toko buku. Caranya dengan mendirikan kemah. Atau membawa kantong tidur. Lebih menakjubkan: jutaan anak itu berpakaian ala Harry Potter, lengkap dengan 'guratan halilintar' di wajah mereka. membawa sapu, tongkat sihir, dan sebagainya.

Dan ketika toko buku itu dibuka, terjadilah penumbangan rekor ini hanya dalam beberapa jam saja, 5,3 juta eksemplar buku Harry Potter sudah ludes terjual. Berarti, sekitar 1,8 juta anak lainnya, harus menunggu... cetakan kedua. Bisa seminggu. Bisa setengah bulan. Bisa pula satu tahun! Begitulah keranjingannya anak-anak pada Harry Potter.

Dapat dimengerti, kalau Daniel RadclifFe, pemeran Harry Potter, ternganga-nganga melihat reaksi masyarakat terhadap permainannya. Diayang dikenal sebagai anak pemalu. Diayang semula 'tanpa nama' meski pernah main dalam beberapa film atau sinetron. Kini mendadak jadi... selebriti dunia! Ketika ditanya bagaimana perasaannya, setelah memerankan Harry Potter, Daniel hanya menjawab singkat: "saya menjerit!" Menjerit takjub. Menjerit tak percaya. Menjer Sebab, ternyata, untuk memperoleh peran it mengalahkan tidak kurang 2.000 kandidat atau mereka umumnya anak Amerika—yangtampaknya I menghadapi Harry Potter.

Terbukti pula: ketika "pencalonan" dibuka lewat internet, tak kurang 40.000 anak tertarik dan ingin sekali memerankan Harry Potter. Jadi, kalau jumlah itu digabung dengan 2.000 yang menjadi kandidat, berarti Daniel Radcliffe telah mengalahkan minimal 42.000 anak yang bernafsu memerankan Harry Potter yang menghebohkan itu!

DUNIA ANAK SELALU MENJADI IMPIAN PENGARANG

LAHIRNYA buku bestseller, kadang memang aneh. Agatha Christie mulai menulis novel misteri atau dunia kriminal, karena diejek saudaranya yang tidak yakin Agatha bisa menulis. Apalagi menyamai pengarang yang ia kagumi, yaitu Sir Arthur Conan Doyle pencipta detektif Sherlock Holmes yang masyhur itu.

Agatha merasa tertantang oleh ejekan saudaranya itu. Diapun habis-habisan menggarap novel kriminal tersebut, sampai kemudian terbukti sangat laris dan menjadi bestseller. Dan membuatnya kaya raya.

Barbara Cartland sejak muda ingin punya suami bangsawan kaya. Atau, lebih tepatnya ibunya mengharuskan Cartland punya suami orang kaya dan terhormat, atau bangsawan. Perjalanan hidupnya memaksa Cartland jadi wartawan. Dari situlah Cartland kemudian mewujudkan impian ibunya, tapi dalam bentuk novel percintaan.

Ketika Cartland sendiri kemudian menikah dengan bangsawan kaya, 'tema novel' itu memperoleh pijakannya yang sangat kuat. Karena hampir seluruh novel asmara Barbara, 'tema sentralnya' tak pernah berubah: impian ibunya.

Joanne Kathleen Rowling, pencipta seri Harry Potter yang kini tengah 'menguasai dunia', juga mirip seperti itu: menjadi pengarang bestseller 'secara tak sengaja'. Pada mulanya, Rowling penggemar anak-anak. Dia sering membacakan buku untuk mereka. Karena kegemarannya itu, Rowling harus rajin mencari buku-buku yang bisa dibacakan kepada mereka. Makin hari makin banyak, sehingga bisa dibilang 'ribuan cerita anak' kemudian mengendap di dalam kepalanya. Dalam memorinya. Dalam bawah sadarnya. Dalam mimpinya.

Meski telah menjadi mahasiswa yang menekuni bahasa Prancis di Universitas Exeter, kegemaran itu terus berlanjut. Apalagi kalau menjumpai buku (anak-anak) yang menggemaskan, mencekam, menguasai seluruh perhatiannya. Buku-buku itu, dengan nama pengarangnya, akhirnya menjadi 'sahabat utamanya'.

Rowling kemudian bekerja sebagai sekretaris. Lalu menikah dengan wartawan televisi Portugal, dan pindah ke negara suaminya itu. Selain mengajar bahasa Inggris, Rowling bisa dibilang 'tak punya pekerjaan'. Seperti halnya lan Fleming sebelum menciptakan tokoh James Bond, Rowling pun berpikir: daripada takada kerjaan, apa salahnya... coret-coret menulis cerita anak?! Itulah embrio kisah-kisah Harry Potter-nya.

"Saya menulis untuk diri sendiri." Artinya: menulis hanya untuk menyenangkan hatinya. Bukan untuk suami. Bukan untuk anak seperti dulu dia sering membacakannya. Kalau toh ada ‘orang lain' di sini, tak lain adalah anak perempuannya, Jessica.

Ide tentang 'dunia sihir' dan 'anak yatim', muncul ketika Rowling naik kereta api dari London menuju Manchester ia sudah bercerai dari suaminya. Dia pergi ke Edinburg mengunjungi kakaknya perempuan.

Mungkin 'bayangan buruk' atas Jessica yang kini jadi yatim, membuat Rowling makin giat mencoret-coret kisah tentang anak-anak yang melibatkan dunia sihir. Dari bacaannya yang sangat banyak, Rowling mengetahui: dunia sihir atau dunia ajaib, dunia aneh-aneh, selalu menarik perhatian anak-anak. "Bagaimana kalau yang 'aneh-aneh' itu kemudian menjadi nyata, real?" pikir Rowling.

Itulah titik tolak Rowling menulis kisah-kisah Harry Potter. "Anak-anak selalu menjadi impian para pengarang." kata Rowling lagi, member! alasan kenapa dia memilih dunia anak untuk buku ceritanya.

Karena perceraian dan tak punya pekerjaan, Rowling harus sangat ngirit selama tinggal di Edinburg. Kemana-mana berjalan, meski tiket bus murah.

Pada setiap ada kesempatan, Rowling melanjutkan coret-coret novel anak-anaknya itu. )uga ketika di kafe, sambil menunggu anak perempuannya, Jessica, bermain. Seperti halnya Ernest Hemingway yang suka mengarang cerita di kafe, begitu pula Rowling. Dan itu berjalan sekitar dua tahun, antara 1993 hingga 1995.

"Saya marah waktu itu," aku Rowling. "Marah kepada diri sendiri, kenapa aku sampai 'menelantarkan' anak perempuanku." Ketika berkunjung ke rumah teman yang punya anak lelaki, Rowling lebih marah kepada diri sendiri: karena anak lelaki itu punya mainanyang sangat banyak di kamarnya, sementara Jessica bisa dibilang 'tak punya apa-apa'. "Aku pulang dan menangis!" aku Rowling mengenai 'pengalaman pahit' bersama anak perempuannya itu.

Depresi dan marah, membuat Rowling lebih bergairah melanjutkan novel dunia sihirnya, meski hanya untuk menyenangkan diri sendiri!

ROWLING MULAI MENULIS USIA ENAM TAHUN 'DARAH SASTRANYA' TURUN DARI IBU

JOANNE KATHLEEN ROWLING dilahirkan pada 1965 di Chipping Sodburry, South Gloucestershire. Rowling beruntung, karena ibunya sangat mencintai dunia buku. Sementara ayahnya insinyur pesawat terbang.

Agaknya, 'darah seni' atau 'darah sastrawannya' memang menitis dari ibunya itu. Masih belum jelas apakah ibunya pencinta buku yang gagal menjadi sastrawan. Tapi kecintaannya pada buku benar-benar menurun deras ke anak perempuannya ini. Pada usia 6 tahun, misalnya, Rowling sudah menulis cerita.

Sejak itu pula, Rowling punya cita-cita jadi pengarang. Cita-cita ini tidak pernah padam, terbukti dia sudah menghasilkan du novel sebelum akhirnya lahir cerita tentang Harry Potter. Novel itu hanya disimpan di laci. Entah akan dibiarkan seperti itu, atau pada akhirnya diterbitkan juga—tentu dengan revisi—setelah namanya terkenal.

Perkawinan JK Rowling dengan wartawan Portugal itu hanya bertahan satu tahun, meski sempat melahirkan satu anak perempuan, Jessica.

Lantas, di mana sebenarnya Rowling mulai menulis Harry Potternya? Ada_yang mengatakan di Edinburg. Ada pula yang mengatakan di Portugal. Tapi menurut Tim Bouquet (The Wizard Behind Harry Potter) kisah itu dimulai corat-coret di Portugal. Berarti saat masih menjadi istri sang wartawan, sekaligus mengajar bahasa inggris.

Setelah cerai, Rowling pergi ke Edinburg, dan tinggal bersama saudaranya, Di, yang jadi pengacara. Lalu tinggal di apartemen sendiri, meski kecil. Rowling harus benar-benar irit.

Rowling kembali jadi guru, di samping mengasuh Jessica dan meneruskan corat-coretnya tentang Harry Potter. "I am a single man. I did and still do write in cafes..."

Seperti Hemingway, tempat yang paling disukai untuk meneruskan corat-coret ceritanya tentang Harry Potter adalah di cafe. Sekalian menunggu anaknya perempuan bermain. Ketika novel pertama seri Harry Potter itu rampung (berjudul Harry Potter and the Sorcerer's Stone), tak satu pun penerbit mau menerimanya. Salah satu yang selalu jadi ganjalan bagi mereka adalah : kisah itu bersetting asrama sekolah. Di samping itu, plot cerita tersebut juga "terlalu kompleks, seperti juga kalimat-kalimat (dalam cerita itu)".

Singkatnya: buku Harry Potter tidak punya prospek bila diterbitkan jadi buku. Tak akan laku!

Tapi Rowling punya pendapat lain: dia yakin bukunya 'akan dibaca orang', meski barangkali tidak akan pernah menjadi bestseller. Sebagai maniak buku, khususnya novel-novel menegangkan atau penuh misteri, Rowling tahu: cerita thriller selalu menarik. Masalahnya tinggal: masyarakat punya kesempatan membaca atau tidak. Artinya: Rowling memang harus menemukan penerbit yang mau mencetaknya menjadi buku. Jadi, bukan harus menuruti penerbit untuk mengubah plot maupun setting ceritanya. Dalam hal ini, Rowling tidak mau kompromi.

Penerbit untuk mengubah plot maupun setting ceritanya. Dalam hal ini, Rowling memang tidak ada kompromi. Dia punya keyakinan sendiri mengenai karyanya itu.

Rowling benar: akhirnya Bloomsburry mau menerbitkannya. Lalu, dengan bantuan 12.000 dolar dari Dewan Kesenian Skotlandia, Rowling meneruskan seri keduanya: Harry Potter and the- Chamber of Secrets.

Rowling memang sudah merencanakan bukunya akan terbit dalam tujuh seri. Hal ini dirancang sejak 1990, ketika ide awalnya muncul. Buku pertama dimatangkan selama dua tahun, 1993 1995. Lalu diterbitkan, tapi royalti pertamanya baru dia terima pada 1997.

Tahu menjadi 'orangtua tunggal' memang tidak mudah, Rowling langsung memasukkan royalti itu ke rekeningnya di bank. "Aku tidak tahu apakah royalti itu akan datang lagi atau tidak." katanya dengan polos. Tapi satu hal pasti: dia gembira akhirnya buku pertamanya dapat diterbitkan!

Buku pertama itu memang tidak dicetak banyak. Dan agaknya yang paling tipis dari semua bukunya yang terbit kemudian. Dapat dipahami: Rowling belum tahu 'reaksi pasar'. Karena itu, dia tidak ingin menulis buku tebal, khawatir penerbit makin takut menghadapinya!

TERJUAL TIGA EKSEMPLAR PUN IBUKU AKAN SANGAT BANGGA!

KARENA mendapat dukungan dana, buku kedua J.K. Rowling, Harry Potter and the Chamber of Secrets, cepat dapat diterbitkan. Berbeda dengan buku pertamanya yang harus 'keliling dari satu penerbit ke penerbit lain' sebelum akhirnya bisa dicetak jadi buku dan diedarkan.

Seperti halnya karya-karya John Grisham, baru buku kedualah yang kemudian benar-benar bom. Meledak di pasar. Nama J.K. Rowling yang semula 'tidak dikenal sama sekali', mulai jadi omongan dari mulut ke mulut. Memuncak ketika buku ketiganya, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, dilempar ke pasar: langsung ke deretan bestseller*.

Kalau semula para penerbit mencibir dan emoh dengar nama J.K. Rowling, kini sebaliknya: hampir semua penerbit iri pada Bloomsburyyang punya 'hak menerbitkan' karya-karya Rowling.

Nama Rowling meroket di angkasa penerbitan buku. Para wartawan menyerbu ke tempat tinggal Rowling, atau di mana pun dia berada, untuk meminta 'wawancara eklusif dengannya. Ironis jadinya: semula Rowling menikah dengan wartawan, lalu 'dibuang', tapi kini... justru wartawan dari seluruh penjuru dunia memburunya!

Rowling yang sebenarnya termasuk wanita pemalu, merasa sangat kerepotan menghadapi serbuan wartawan itu. Apalagi, flat tempat tinggalnya hanya kecil. Itu sebabnya, Rowling lebih sering meninggalkan flatnya dan 'lari' ke mana saja yang aman. Dari situlah terlintas pikiran: harus secepatnya punya rumah sendiriyang besar dan aman, agar kehidupan sehari-harinya tidak terganggu. Juga agar dia dapat menulis lanjutan 'seri Harry Potter' lebih tenang. Selama ini, Rowling memang merasa senang menulis di kafe. Tapi hal itu tak mungkin dilakukan lagi. Dia mudah dikenali publik, dan ini 'sangat berbahaya' bagi privacy-nya.

Tapi Rowling tak perlu khawatir lagi: rekeningnya di bank, makin hari makin panjang deretan nolnya. Apalagi ketika buku keempatnya, Harry Potter and the Goblet of Fire, terbit pula. Ini buku paling tebal. Tapi toh justru... paling laris! Paling cepat lenyap dari rak-rak toko bukuyang memajangnya, karena bahkan sebelum terbit pun, jutaan penggemarnya sudah menanti!

Hingga buku keempatnya itu, diperkirakan Rowling sudah mengantungi royalti sekitar 40 juta dolar, atau lebih dari Rp. 400 miliar. Bayangkan: kalau Rp. 35 miliar saja dapat menggqyang Gus Dur. Lalu Rp. 40 miliar membuat Akbar Tanjung di ujung tanduk. Lantas, apa yang bisa dilakukan Rowling dengan kekayaannya yang Rp. 400 miliar lebih itu? Ditambah dengan honor dari bukunya yang difilmkan Warner Bros, janda satu anak yang baru berusia 37 tahun ini, memang bisa 'membeli apa saja yang diinginkan'. Tapi, tentuyang pertama dilakukan adalah membeli rumah besar. Dan itu sudah dilakukan Rowling. Dia membeli mansion yang dikenal sebagai Killie chassie House. Rumah besar bergaya Skotlandia ini, dibangun seorang jenderal pada 1865, di tepi sebuah sungai yang indah di jantung Skotlandia. "Senang rasanya punya rumah sendiri!" kata Rowling dengan rendah hati. Rowling pernah menangis karena anak tunggalnya, Jessica, tidak punya mainan seperti anak kenalannya.

Dia juga harus berpayah-paj/ah menjadi guru agar tidak kelaparan. Harus jalan kaki ke mana pun pergi, agar bisa mengirit belanja. Kini semua itu 'selamatj tinggal'. Rowling bisa menulis lanjutan seri Harry Potter, bukul kelima, di tepi sungai_yang indah, di lingkungan rumahnya sendiri, tanpa harus terganggu lalu lintas, seperti dulu ketika masih menulis di kafe-kafe. Atau langsung menulis di laptop-nya, sambil menikmati udara sekitar yang sangat sejuk dan menenteramkan.

Rowling kini memang 'bisa membeli apa saja yang diinginkan'. Juga apabila dia menginginkan mobil model terakhir, agar tidak kelelahan berjalan. Tapi, ternyata, yang diinginkan justru... 'kunjungan' ibu kandungnya yang sudah meninggal!

Di saat Rowling menjadi penulis bestseller tanpa landing (khususnya di toko buku), dia justru teringat pada ibunya, yang bagaimanapun telah mewariskan 'bakat sastra' ke dirinya. Ibunya yang maniak buku, benar-benar telah 'memberi tuah berganda' pada janda Rowling.

"miss her daily." aku polos Rowling. "Setiap hari aku kangen padanya. Rasanya aku selalu mendengar suaranya... sungguh sangat menyakitkan!" "Aku yakin ayahku bangga (pada suksesku ini)," katanya lagi. "Tapi yang lebih bangga, tentu ibuku. Sebab buku adalah gairah terbesarnya.

Punya anak perempuan yang bisa menulis buku, past! membuatnya bangga. Bahkan seandainya, aku hanya bisa menjual tiga eksemplar bukuku!" Tiga buku jelas sangat ekstrem. Karena nyatanya, hingga seri keenam, buku Rowling yang terjual sudah mencapai 270 juta eksemplar lebih!

Sabtu, 09 Oktober 2010

Raib di Sahara


Penerbangan memecah rekor Inggris-Cape Town yang diharapkan menjadi tonggak kebangkitannya justru menjadi akhir bagi Captain Bill Lancaster. Ia takluk oleh keganasan Gurun Sahara, Bahkan jasadnya harus menunggu 29 tahun untuk ditemukan. Seperti diungkap Terry Gwynn-Jones dalam Aviation History kisah hidupnya yang tak kalah seru disbanding scenario film Hollywood dengan bumbu percintaan segitiga dan pembunuhan pun bertambah lengkap dengan akhir yang tragis.

Lahir di Birmingham, Inggris pada 1898, Bill Lancaster berimigrasi ke Australia sebelum pecah Perang Dunia I. Pada tahun 1916, ia mendaftarkan diri masuk Angkatan Bersenjata Australia dan bertugas di Timur Tengah dan Perancis sebelum dipindahkan ke Australian Flyng Corps untuk mengikuti pelatihan pilot. Setelah perang mereda, ia bergabung dengan Britain’s Peacetime Royal Air Force (RAF).

Sifat tanpa basa basi dan pemberontak, mantan petinju amatir dan tentara berkuda yang berhasil ini sempat membuat komandannya tidak senang karena menikah di usia belia, 21 tahun. Padahal saat itu Britain’s Military Services memberlakukan aturan yang tidak mengakui jaminan pernikahan untuk mencegah perwira menikah di bawah usia 25 tahun.

Masa tugas Lancaster di RAF berakhir pada 1927, setelah bertugas di India sebagai pilot tempur. Sulitnya mendapat pekerjaan sebagai penerbang, membuat pria berahang persegi ini memutuskan untuk mengukir namanya dengan terbang ke Australia menggunakan Avro Avian. Pesawat bermesin Cirrus ADC 80 tenaga kuda ini merupakan salah satu turunan baru dari British light Touring planes. A.V.Roe and Co.Ltd setuju untuk menyediakan Avian khusus berjarak jauh dengan harga korting, dan Shell menawarkan bahan baker gratis. Meskipun demikian, Lancaster tidak bisa mendapatkan dana yang cukup untuk melakukan penerbangan.

Peluang datang ketika dalam suatu pesta di London, Lancaster di perkenalkan kepada Jessie Miller, wanita asal Australia. Dikenal teman-temannya sebagai “Chubbie” yang tinggal berjauhan dengan suaminya, seorang wartawan Australia. Cita-cita Chubbie menjadi wanita pertama yang melakukan penerbangan panjang ke Australia membuat ia membujuk Lancaster untuk membawanya sebagai penumpang sebagai imbalan bagi dana yang ia sediakan.

Istri Lancaster setuju dan melepas mereka di Croydon Airport, London pada 14 Oktober 1927. Menuju Darwin menggunakan Avro Avian Mk.III Red Rose, Lancaster tidak berencana untuk memecahkan rekor kecepatan. Kebetulan pula rekor penerbangan 14.000 mil mereka terganggu cuaca buruk, masalah mesin dan akhirnya mendarat darurat di sebuah pulau luar Sumatera Indonesia, sehingga untuk menuju Darwin dia menghabiskan waktu lebih lima bulan. Sementara menunggu mesin diperbaiki, mereka disalip Avro Avian yang diterbangkan “Hustling” Bert Hinkler –Lindbergnya Australia- dalam penerbangan solo perintisnya ke Darwin. Orang-orang memberi sambutan hangat saat Bill dan Chubbie akhirnya mendarat di Darwin. Ini adalah penerbangan terpanjang yang menyertakan seorang wanita. Mereka kemudian melakukan tur, memberikan kuliah dan hadir dalam berbagai resepsi. Enam bulan bersama, Bill dan Chubbie akhirnya saling jatuh cinta.

Tahun 1928 mereka berlayar ke AS untuk berperan dalam sebuah film Hollywood yang nyatanya tidak pernah diproduksi. Enam bulan kemudian Lancaster terbang keliling Amerka mempromosikan mesin pesawat Inggris. Keputusan untuk rujuk didorong orangtuanya yang religius tidak berhasil. Sang istri kembali ke Inggris, menolak untuk menceraikan Lancaster.

Sementara Chubbie yang mendapat lisensi pilot dari Red Bank School di New Jersey memulai karir penerbang. Tahun 1930 ia memecahkan rekor kecepatan penerbangan transcontinental bolak balik dengan”killer” monoplane yang dinamai Alexander Bullet. Orang Amerika menjulukinya “The Australian Aviatrix” saat muncul dalam Women’s Aerial Derby and the Ford Reliability Tour.

Untuk melukiskan petualangannya, tahun 1932 Chubbie mempekerjakan Hayden Clarke, seorang penulis muda yang tinggi dan berwajah tampan. Clarke tinggal bersam Miller dan Lancaster di rumah sewaan di Miami. Karena sulitnya pekerjaan sebagai penerbang lepas saat itu akibat depresi besar di Amerika, Lancaster pergi ke Mexico untuk bekerja dan meninggalkan Chubbie bersama si penulis muda.

Chubbie yang kesepian ditinggal Lancaster akhirnya menerima pinangan Clarke. Dengan hati hancur dan amarah yang memuncak, Lancaster pulang dan memohon Chubbie untuk memikirkannya kembali. Lucunya, kendati terjerat dalam cinta segitiga, trio ini tetap tinggal bersama hingga terjadi tragedi yang mengawali kehancuran Lancaster. Malam 20 April 1932, Clarke tertembak di kepala dan meninggal beberapa jam di rumah sakit. Sminggu kemudian polisi menangkap Lancaster karena dua catatan bunuh diri yang ditemukan ternyata palsu. Lancaster harus menjalani persidangan yang saat itu dianggap sensasional. Meskipun berjalan alot, terungkap bahwa Clarke menderita

ketidakseimbangan mental, berpoligami, pecandu obat-obatan dan sebelumnya pernah mengutarakan keinginan untuk bunuh diri.

Yang mengesankan hakim, bukti buku harian Lancaster. “Adalah hak istimewa aku untuk dapat melihat jauh ke dalam jiwa seorang lelaki melalui buku hariannya, yang semata ditujukan untuk dirinya sendiri. Sejauh pengalan saya, tidak pernah saya menemui seorang yang lebih terhormat dibandingkan dengan Captain Lancaster,” kata Hakim kepada juri. Lancaster diputuskan tak bersalah dan dibebaskan.

Recent Post