Rabu, 02 Februari 2011

The Godfather : Mario Capuzo Part2


DIKIRA TOKOH MAFIA SUNGGUHAN


BUKU The Dark Arena tidak menghasilkan uang. Mala| memberinya sakit, dan memaksa Mario Puzo mendarat di sakit.

Tapi dasar penjudi. Di rumah sakit, Puzo pasang taruhan pertandingan baseball dan menang. Maka kerjanya di bank (malam hari) ditinggalkan. "Aku ingin mencurahkan tenaga untuk mengarang," katanya.

Kehabisan uang pula. Kerja lagi dan keluar lagi, kali ini kerja di administrasi tentara cadangan. Tapi kerjanya di sebuah majalah (MagazineManagement) bertahan cukup lama. Sebab dinilai cukup menguntungkan. Dia menulis cerita-cerita Perang Dunia II, yang pernah juga dialaminya. Sebuah pengalaman yang sangat bermanfaat dan membantu kepengarangannya.

Di tempat itu pula, Puzo kadang dipaksa membaca sekaligus 6 buku.semua mengenai PD II. Hal ini membuat dia "ahli mengenai Perang Dunia II". "Aku tahu lebih banyak dari yang lain, karena aku membaca semua buku tersebut," kata Puzo mengenang pengalamannya.

Bruce jay Friedma, Pemimpin Redaksi dan juga novelis, ingat kebiasaan Puzo "bersandar pada kursi dan di mulutnya rokok besar mengepul, sementara di tangan kanan dan kirinya ada tiga .sebagai layaknya makanan saja".

Tepat. Buku bagi Mario Puzo. memang merupakan makanan. Inilah sebabnya ada kritikus yang mengatakan: Puzo is an avid ?serious reader. Puzo adalah tukang baca buku yang serius.

Hal itu dibuktikan pada kejadian berikut: pada saat Mario Puzo menyiapkan Godfather, dia sempat pula menulis berpuluh pembicaraan buku (resensi), di samping cerita-cerita cilik. Seperti totanya sendiri: "selama waktu itu (menyiapkan Godfather) aku to menulis tiga cerita petualangan—setiap bulan!—untuk Martin Goodman. Aku juga menulis buku kanak-kanak, yang ternyata mendapat kritik bagus dari the New Yorker. Aku juga banyak menulis resensi buku di banyak majalah. Inilah masa-masa paling kfliembahagiakan dalam hidupku!"

Membahagiakan? Keluarganya tidak setuju dengan pendapat ['III, karena uang_yang dihasilkan tidak begitu banyak!

PENDAPAT keluarganya tepat. Sebab sebelum Godfather, Mario Puzo hanya menghasilkan 6.500 dolar. Setelah Godfather, dalam sepuluh tahun terakhir, diperkirakan Puzo bisa mengeduk.... 6.000.000 dolar. Seribu kali lipat!

uang itu diperoleh dari Godfather I (I juta dolar). Untuk Godfather II, khususnya skenario, Puzo mendapat 100.000 dolar, plus 10% keuntungan yang diperoleh (jadi kalau film ini sukses, uang pun akan mengalir terus ke koceknya).

Godfather III siap pula, dan Puzo paling sedikit mendapat 250.000 dolar. Penghasilan lain adalah dari menulis skenario untuk Earthquake yang terkenal itu (menghasilkan 350.000 dolar), Superman /dan //, juga The Man of Steel.

Ini memang kemenangan gemilang Mario Puzo. Setelah puluhan tahun hidup seperti kere, kini saatnya menjadi raja. Apa sajayang disentuh, jadi uang. Tangan midas bekerja untuknya!
Buku, film, esai, cerita pendek. apa saja jadi uang. Dan para wartawan mengejar dan mengubernya. Anak-anak muda ingin bertemu, untuk memperlihatkan mereka "persis seperti Sonny" (tokoh dalam Godfather, anak Don Corleone).

Tak terkecuali tokoh-tokoh mafia yang sesungguhnya, ingin bertemu muka dan omong-omong dengan Mario Puzo. Mereka I sama sekali tidak percaya, bahwa Mario Puzo "tidak pernah masuk dalam dunia bawah tanah seperti mereka". Bahkan, bandit-bandit mafia itu mengatakan, "Mario pasti pernah menjadi Don!"

SATU Dl ANTARA Don murni tersebut, ingin sekali ditulis riwayat hidupnya oleh Puzo. Tapi pengarang gendut ini menolak. Dia memang tidak ingin terlibat dengan mereka, dalam bentuk apa pun.

The Godfather tampaknya memang sangat otentik (kalau Anda membacanya. rasanya pendapat ini memang benar adanya). Tapi justru di situlah keunggulan Mario Puzo: dia menulis buku fiksi, karangan, tapi pembaca yakin "sebagai yang sesungguhnya". “Padahal aku sangat menyesal buku itu tidak saya garap dengan bahan-bahan hasil penyelidikan yang mendalam," kata Puzo.

Tapi bahwa dia tahu benar lika-liku judi, benar adanya. Sejak dunia judi memang 'ditekuninya' benar-benar. Bahkan ketika a, dia pun sering pergi ke Las Vegas untuk judi.

Di tempat itu, tentu saja dia dikenal sebagai "penjudi kere". Tapi setelah Godfather, sebutan itu dengan sendirinya berubah. lagi 'degenerate gambler' (penjudi teri). tapi justru mendapat panggilan khusus: "Mr. P".

Itu tidak berarti Mario Puzo telah menghambur-hamburkan di tempat judi. Tidak. Dia tetap membatasi diri. Pokok kesenangannya berjudi jalan terus, tapi tidak sampai menghancurkan diri dan hidupnya. Apalagi keluarganya. Maka setahun Mario Puzo hanya menghabiskan 20.000 dolar.

Artinya, Mario Puzo cukup 'tahan uji' menjadi orang kaya. Tidak sombong, tidak sok, tidak mencari publikasi dengan banyak mengadakan wawancara (meski dibayar sekalipun). Malah, 'budaya wawancara' kemudian dibencinya.

"Saya tidak peduli sama sekali dengan segala macam interview," katanya atos. Pun "saya tidak suka membuat pernyataan-pernyataan yang bodoh dengan menyanjung diri sendiri".

Pendek kalimat, Mario Puzo lebih suka lari dari dunia wartawan (koran, majalah, elektronika). Ya, meski Godfather merupakan bestseller-dan urutan nomor satu-baik di Amerika, Inggris,
Jerman, dan lainnya. Pun telah diterjemahkan ke puluhan bahasa di dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Post